Ayu Indah Lestari
Ayu Indah Lestari
Penulis buku Meramu Rindu, Lintas Waktu, Dialektika Ruang Maya dan Sepasang (R)asa. Aktif dalam dunia literasi dan pendidikan sejak tahun 2012 serta saat ini bekerja sebagai asisten editor di Penerbit Nasmedia.

6 Cara Mengubah Mindset Anak Muda Tentang Buku

Daftar Isi

Pendahuluan

Di era digital yang serba cepat ini, buku tak lagi menjadi pilihan utama anak muda untuk mencari informasi apalagi untuk hiburan.

Mereka lebih sering menjelajah video singkat di TikTok, membaca thread di X (Twitter), atau menyimak podcast berdurasi lima belas menit saat di perjalanan.

Semua serba instan, visual, dan praktis.

Sementara itu, buku yang dulu dianggap sebagai simbol intelektualitas dan gudang ilmu perlahan kehilangan daya tariknya.

Di mata banyak anak muda, membaca buku sering kali dianggap kuno, membosankan, dan tidak relevan dengan dunia yang bergerak cepat.

Tak heran jika minat baca terus menurun, bahkan di kalangan pelajar dan mahasiswa sekalipun.

Namun, benarkah buku sudah tak punya tempat di era digital ini?

Atau sebenarnya bukan bukunya yang bermasalah, melainkan cara kita memperkenalkannya?

Bisa jadi, tantangan terbesarnya bukan pada kontennya, tapi pada cara pandang atau mindset anak muda terhadap buku itu sendiri.

Faktanya, buku tetap menyimpan kekuatan luar biasa.

Ia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga melatih fokus, memperluas perspektif.

Dan membangun empati, dan membantu anak muda mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan itu yang sangat dibutuhkan di tengah banjir informasi saat ini.

Sayangnya, semua manfaat itu sulit dirasakan jika sejak awal buku sudah dianggap sebagai beban, bukan sahabat berpikir.

Maka, yang perlu diubah bukan hanya pendekatannya, tapi juga mindset-nya.

Anak muda perlu diyakinkan bahwa membaca bukan sekadar aktivitas sekolah, bukan sekadar tugas dari guru, tapi sesuatu yang bisa dinikmati dan memberi manfaat nyata dalam kehidupan.

Lalu, bagaimana caranya?

Bagaimana membuat anak muda memandang buku sebagai bagian dari gaya hidup mereka bukan sebagai kewajiban, tapi sebagai kebutuhan yang menyenangkan?

1. Pahami Dulu Dunia Mereka: Visual, Instan, dan Serba Digital

Langkah pertama yang sering terlewat adalah memahami dunia anak muda hari ini.

Mereka hidup dalam ekosistem digital. Sejak kecil, mereka terbiasa dengan layar sentuh, notifikasi cepat, dan informasi instan.

Mereka belajar dari YouTube, berdiskusi di TikTok, dan mencari inspirasi di Instagram.

Artiket Terkait:  Kenali 6 Jenis Literasi yang Harus Dikuasai di Era Digital

Jika buku masih disajikan dalam format dan pendekatan yang kaku, jangan heran jika mereka menolak.

Maka, penting untuk mengenalkan buku dengan pendekatan yang sesuai dengan pola hidup mereka.

Misalnya, mulailah dari e-book yang bisa dibaca di ponsel, atau kenalkan audiobook yang bisa didengarkan sambil beraktivitas.

Format buku harus menyesuaikan gaya hidup, bukan sebaliknya.

Saat anak muda merasa buku bisa “menyatu” dengan dunia mereka, minat baca lebih mudah tumbuh.

2. Sajikan Buku yang Relatable dan Relevan

Salah satu penyebab anak muda enggan membaca adalah karena buku yang mereka temui terasa jauh dari realitas mereka.

Terlalu serius, terlalu berat, atau tidak menyentuh hal-hal yang mereka alami.

Solusinya sederhana: berikan buku yang relatable dan bermakna bagi mereka.

Misalnya, remaja SMA mungkin lebih tertarik pada buku-buku yang membahas keresahan sosial, pertemanan, atau pencarian jati diri.

Mahasiswa mungkin lebih suka buku yang membahas isu kontemporer, pengembangan diri, atau kisah inspiratif tokoh muda.

Tidak semua harus mulai dari sastra klasik atau buku motivasi.

Genre seperti novel remaja, komik edukatif, atau biografi tokoh muda bisa jadi pengantar yang ampuh.

Setelah mereka merasa buku “bicara” kepada mereka, langkah berikutnya akan lebih mudah.

3. Gunakan Role Model Seumuran yang Dekat dengan Mereka

Anak muda cenderung terinspirasi oleh sesama anak muda.

Mereka lebih tertarik mendengar pesan dari tokoh yang terlihat mirip, satu generasi, atau minimal, memahami dunia mereka.

Maka, peran role model sangat penting dalam kampanye literasi.

Bayangkan jika seorang influencer muda membagikan buku favoritnya di TikTok dengan gaya yang santai.

Atau seorang YouTuber membuat konten ulasan buku dengan cara yang seru, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada seminar resmi bertema “ayo membaca”.

Anak muda lebih mudah tertular semangat membaca saat melihat orang yang mereka kagumi juga melakukannya.

Bahkan, promosi buku pun bisa dibungkus dalam format kekinian dengan rekomendasi buku di Instagram Story, challenge membaca di YouTube Shorts, atau podcast literasi di Spotify.

Artiket Terkait:  Konversi Karya Ilmiah Kamu Menjadi Buku Digital Ber-ISBN di Nasmedia!

Ketika membaca terlihat keren, bukan membosankan, anak muda akan lebih terbuka untuk mencoba.

4. Ajak Masuk ke Komunitas Baca yang Seru dan Tidak Kaku

Membaca memang kegiatan individual, tapi semangatnya bisa tumbuh lewat interaksi sosial.

Salah satu cara efektif mengubah mindset adalah dengan mengajak anak muda bergabung ke komunitas baca yang menyenangkan.

Bukan komunitas yang penuh peraturan atau formalitas tinggi, tapi ruang yang memberi kebebasan untuk berdiskusi, mengekspresikan pendapat, dan menikmati buku dengan santai.

Diskusi santai di kafe, ruang obrolan online seperti Discord, bahkan grup WhatsApp bisa jadi sarana berbagi buku yang menyenangkan.

Apalagi jika komunitas tersebut mengadakan tantangan seperti “baca 3 buku dalam sebulan” atau “review buku dalam 60 detik”.

Aktivitas seperti ini memberi rasa keterlibatan dan pencapaian dan dua hal yang penting bagi generasi muda.

5. Jadikan Membaca Bagian dari Gaya Hidup, Bukan Kewajiban

Mindset anak muda tidak akan berubah jika membaca terus diasosiasikan dengan tugas sekolah, ujian, atau kewajiban akademik.

Mereka akan terus melihat buku sebagai beban, bukan teman.

Cobalah ubah pendekatannya. Ajak mereka melihat buku sebagai bagian dari gaya hidup.

Misalnya, membaca buku saat nongkrong di kafe, menulis kutipan buku di media sosial, atau menjadikan buku sebagai bahan diskusi ringan saat ngobrol dengan teman.

Lebih jauh lagi, ajak mereka mencocokkan buku dengan hobi.

Suka fotografi? Ada banyak buku keren tentang seni visual.

Atau bisnis? Buku tentang entrepreneur muda bisa sangat menginspirasi.

Bisa juga suka Korea? Banyak novel atau kisah inspiratif dari sana juga.

Saat membaca tidak lagi terasa “berat”, mereka akan melakukannya dengan sukarela.

6. Apresiasi Kemajuan Membaca, Hindari Perbandingan

Terakhir dan tak kalah penting: ubah cara kita merespons minat baca anak muda.

Banyak orang dewasa terjebak pada pola membandingkan atau menghakimi “kamu kok nggak suka baca?”, “dulu waktu mama muda, satu minggu bisa selesai tiga buku”.

Padahal, setiap proses butuh waktu. Mengubah mindset bukan pekerjaan semalam.

Maka, berikan apresiasi atas kemajuan sekecil apa pun.

Artiket Terkait:  6 Faktor Utama yang Mempengaruhi Minat Membaca

Mereka baru selesai satu buku dalam dua bulan? Itu tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.

Mereka baru tertarik pada komik atau novel ringan? Dukung, bukan malah mencibir.

Hindari juga sikap otoriter yang menyuruh membaca tanpa menjelaskan manfaatnya.

Lebih baik diskusi dari hati ke hati, tanya apa yang mereka suka, dan bantu mencarikan buku yang sesuai.

Saat anak muda merasa didukung, bukan dihakimi, mereka akan lebih terbuka untuk menjadikan buku sebagai bagian dari hidupnya.

Penutup

Mengubah mindset anak muda tentang buku memang bukan pekerjaan instan.

Dibutuhkan kesabaran, konsistensi, dan yang paling penting pemahaman terhadap dunia mereka yang serba cepat, visual, dan penuh distraksi.

Tapi bukan berarti hal itu mustahil. Justru di tengah banjir konten instan, kehadiran buku bisa menjadi oase yang memberi kedalaman berpikir dan ketenangan yang dirindukan.

Kuncinya terletak pada pendekatan: bukan dengan memaksa, apalagi menggurui.

Melainkan dengan cara yang empatik, relevan, dan membumi.

Kita tidak bisa lagi menyodorkan buku dengan cara lama lalu berharap anak muda langsung tertarik.

Sebaliknya, kita perlu masuk ke dunia mereka, memahami pola pikir mereka, lalu mengenalkan buku dengan bahasa dan cara yang mereka pahami.

Menghubungkan buku dengan minat pribadi mereka, menggunakan role model yang mereka kagumi, menciptakan suasana membaca yang nyaman dan komunitas yang seru.

Hingga menjadikan membaca bagian dari gaya hidup harian semua ini bukan sekadar strategi, tapi juga bentuk penghargaan terhadap kebebasan berpikir mereka.

Kita tidak sedang menjejali mereka dengan kewajiban, tapi menawarkan pilihan yang bermakna.

Apresiasi juga memainkan peran penting.

Ketika anak muda merasa dihargai atas pilihan bukunya, bukan dihakimi karena genre yang mereka sukai, maka membaca tidak lagi terasa membebani.

Akhirnya, perubahan mindset tak selalu terjadi dalam satu malam.

Tapi langkah kecil yang konsisten akan menciptakan efek besar.

Dan siapa tahu, di tengah hiruk-pikuk dunia digital, justru buku yang menjadi pelabuhan yang mereka cari selama ini.

Share

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on telegram
Ayu Indah Lestari
Ayu Indah Lestari
Penulis buku Meramu Rindu, Lintas Waktu, Dialektika Ruang Maya dan Sepasang (R)asa. Aktif dalam dunia literasi dan pendidikan sejak tahun 2012 serta saat ini bekerja sebagai asisten editor di Penerbit Nasmedia.
Artikel Terkait