Pendahuluan
Perpustakaan selalu identik dengan ketenangan. Rak-rak kayu berdiri rapi, bau kertas tua memenuhi ruangan, dan keheningan seolah menjaga pengetahuan dari hiruk-pikuk dunia luar.
Di balik suasana damai tersebut, pernah terjadi suatu kejahatan intelektual yang bertahan bertahun-tahun tanpa banyak orang menyadarinya.
Buku-buku langka lenyap satu per satu, sementara staf perpustakaan mengira itu hanya kesalahan inventaris biasa.
Fenomena ini berujung pada kisah seorang pria yang kemudian dikenal di seluruh Amerika Serikat sebagai “Perampok Buku”: Stephen Blumberg.
Ia memicu perdebatan besar tentang batas antara kecintaan pada buku dan tindak kriminal, dan namanya terus di ingat dalam sejarah perpustakaan dan akademik.
Kasus ini membuka mata publik bahwa ketika cinta buku menjadi kejahatan, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.
Awal Mula Obsesi

Stephen Blumberg memperlihatkan ketertarikan mendalam pada buku sejak usia muda. Ia tertarik pada nilai sejarah, kondisi fisik, dan keunikan buku langka. Kecintaan ini memberi kepuasan emosional yang kuat dan akhirnya berubah menjadi obsesi.
Awalnya, Blumberg berupaya mengoleksi buku secara legal, tetapi perlahan ia menganggap perpustakaan sebagai sumber “benda berharga” yang bisa ia miliki.
Ia merasa terdorong untuk mengambil buku–buku tertentu secara pribadi, terutama yang ia anggap memiliki nilai budaya tinggi. Dorongan ini terus meningkat seiring waktu.
Berbeda dengan kolektor biasa yang menjelajahi lelang atau pasar buku antik, Blumberg memilih cara jauh lebih kontroversial, yakni mengambil buku dari perpustakaan tanpa izin.
Ia mempelajari kelemahan dan keamanan dan mengamati perpustakaan dengan intensitas tinggi.
Metode Pencurian Terencana
Strategi Blumberg dalam mencuri buku menunjukkan rencana yang terorganisir. Ia menyelidiki tata letak perpustakaan, jam operasional, dan jadwal staf sehingga ia bisa masuk dan keluar tanpa menciptakan kecurigaan.
Banyak dari aksi ini terjadi di malam hari atau saat area koleksi khusus tidak diawasi ketat. Ia sering menyamar sebagai akademisi atau peneliti serius demi mendapatkan akses.
Dengan mengenakan pakaian rapi dan membawa catatan, ia berhasil mengelabui pustakawan di berbagai institusi. Taktik ini membuatnya terlihat seperti pengunjung yang tulus mencari bahan riset.
Blumberg mencuri dari ratusan perpustakaan dan museum, lebih dari 268 lokasi di 45 negara bagian Amerika Serikat dan dua provinsi Kanada, dan satu universitas di Inggris selama hampir dua dekade.
Koleksinya mencakup ribuan buku langka serta manuskrip yang nilainya sangat tinggi.
Terungkapnya Kasus Stephen Blumberg

Kasus ini mulai terbuka ketika seorang teman lama Blumberg memberikan informasi kepada FBI yang mengarah pada rumahnya di Ottumwa, Iowa.
Ia mengkhianati Blumberg setelah pihak berwenang menjanjikan imbalan yang cukup besar, yakni sebesar 56,000 dolar AS.
Pada 20 Maret 1990, pihak berwenang menemukan sebagian besar koleksi buku curian dalam jumlah besar dan tersusun rapi di dalam rumah tersebut.
Pengadilan federal kemudian menemukan Blumberg bersalah atas beberapa dakwaan, termasuk memiliki dan mengangkut barang curian antarnegara bagian.
Ia dijatuhi hukuman 71 bulan penjara, yakni 5 tahun 11 bulan, dan denda sebesar 200,000 dolar AS. Namun setelah 4,5 tahun, ia dibebaskan pada akhir 1995.
Meski begitu, Blumberg masih tertangkap beberapa kali karena pencarian barang antik sekitar tahun 1990-2000-an.
Kasus ini menarik perhatian publik dan media karena tidak hanya jumlah besar buku yang dicuri, melainkan juga kompleksitas metode yang ia gunakan dalam waktu puluhan tahun.
Skala Kejahatan yang Mengejutkan
Ketika Blumberg akhirnya tertangkap, ukuran koleksinya membuat banyak pihak tercengang.
Aparat menemukan sekitar 23,600 buku langka yang tercuri dengan nilai yang awalnya mencapai 20 juta dolar AS, meskipun evaluasi selanjutnya menempatkannya di sekitar 5,3 juta dolar AS setelah pemeriksaan ulang.
Koleksi itu termasuk edisi pertama yang sangat langka dan karya-karya bersejarah yang hampir mustahil tergantikan.
Banyak perpustakaan kemudian membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyusun kembali dan mengembalikan buku–buku yang berhasil dilacak ke institusi asalnya.
Dampak hilangnya buku–buku itu cukup signifikan dalam dunia riset akademik lantaran akses sumber primer menjadi sulit.
Antara Kecintaannya pada Buku dan Obsesinya

Blumberg kerap mengklaim bahwa ia “mencintai buku” dan bahwa tindakannya adalah demi menyelamatkan karya-karya berharga yang ia anggap terabaikan. Pernyataan ini membuat banyak orang mempertanyakan motif di balik kejahatannya.
Namun, ada yang mengatakan bahwa ini adalah bentuk halusinasinya karena ia mengidap skizofrenia paranoia selama persidangan. Meski begitu, pengadilan tetap menganggapnya kompeten untuk diadili.
Terlepas dari klaimnya, tindakan tersebut tetap merugikan perpustakaan dan masyarakat luas yang berhak atas akses sumber ilmu tersebut.
Risiko besar kehilangan arsip penting memunculkan diskusi etis tentang batas antara koleksi pribadi dan tanggung jawab sosial.
Dampak bagi Dunia Perpustakaan dan Akademik.
Paparan kasus Stephen Blumberg menjadi titik balik bagi banyak perpustakaan dalam masalah keamanan koleksi langka. Institusi mulai memperbarui prosedur pengawasan, menerapkan pencatatan digital, dan memperketat akses area khusus.
Teknologi modern kini banyak diterapkan untuk mengurangi kemungkinan kejadian serupa terulang.
Dalam dunia akademik, kerugian berupa buku dan manuskrip ratusan tahun ini menciptakan tantangan besar dalam riset dan referensi historis.
Beberapa materi yang tercuri butuh puluhan tahun untuk ketemu dan kembali ke pemilik aslinya, dan beberapa bahkan masih belum ada sampai hari ini.
Stephen Blumberg Saat Ini
Meski pernah terkenal sebagai “Book Bandit”, kehidupan Stephen Blumberg setelah masa hukumannya berjalan sangat jauh dari sorotan publik.
Setelah bebas dan beberapa kali kembali berurusan dengan hukum terkait upaya pencurian lagi, ia kemungkinan kini tinggal secara reklusif di Iowa.
Tidak banyak informasi publik tentang kesehariannya, tetapi diketahui bahwa ia hidup jauh dari perhatian media dan tidak aktif dalam kegiatan publik.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa kondisi mental dan gaya hidupnya tetap privat, dan ia tetap terkenang lebih sebagai fenomena sejarah daripada sosoknya di masa kini.
Penutup
Kasus Stephen Blumberg menunjukkan bahwa cinta terhadap ilmu pengetahuan harus berdampingan tanggung jawab sosial dan etika. Ketika dorongan untuk memiliki buku langka mengalahkan batas moral, kerugian kolektif menjadi nyata.
Ketika cinta buku menjadi kejahatan, dampaknya tak hanya terasa oleh perpustakaan, tetapi oleh seluruh dunia akademik dan komunitas pembaca.
Kisah ini juga mengingatkan kita bahwa kejahatan intelektual dapat menimbulkan dampak yang mendalam, bahkan puluhan tahun setelah peristiwa itu terjadi.
Dunia perpustakaan terus berkembang dan memperbaiki sistemnya, namun ingatan tentang Blumberg tetap menjadi pelajaran penting dalam sejarah pengetahuan dan pelestarian budaya.













