Hikmah Wardani
Hikmah Wardani
Menekuni Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris sejak tahun 2022. Berkeinginan untuk mengembangkan kemampuan menulis dan berbagi cerita melalui kata-kata.

Ini Dia 6 Istilah yang Sudah Masuk di KBBI Terbaru

Daftar Isi

Pendahuluan

Bahasa selalu bergerak mengikuti zaman. Setiap hari, kita mendengar kata-kata baru bermunculan di media sosial, percakapan santai, hingga ruang publik digital.

Menariknya, sebagian kata yang dulu terasa “tidak baku” kini mulai mendapat pengakuan resmi dari lembaga bahasa.

Perubahan ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia itu adaptif terhadap perkembangan budaya dan kebiasaan penuturnya.

Ketika katakata populer masuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kita melihat bagaimana bahasa merekam realitas sosial secara nyata. Makanya, pemahaman makna kata membantu kita berkomunikasi dengan lebih tepat.

Maka, enam istilah yang sudah masuk di KBBI terbaru terasa seru untuk kita bahas bersama.

Selain menambah wawasan, daftar istilah ini juga mengajak pembaca melihat bagaimana bahasa gaul, serapan, dan istilah teknis akhirnya menjadi bagian dari bahasa Indonesia yang resmi.

Istilah-istilah Baru dalam KBBI

 

Jika diperhatikan, beberapa istilah baru dalam KBBI sebenarnya sudah sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari.

Namun, ada pula kata yang terdengar asing dan jarang muncul di ruang obrolan umum. Perbedaan ini membuat pembaruan KBBI selalu menarik untuk dibahas.

Masuknya istilah-istilah baru ini memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia menyerap pengaruh dari berbagai sumber, baik bahasa asing, budaya populer, maupun kebutuhan akademik.

Agar tidak bingung, mari kita bahas satu per satu istilah yang belakangan ramai diperbincangkan.

1.     Kapitil

Istilah kapitil kini resmi tercatat dalam KBBI terbaru sebagai kosakata yang dipakai untuk menggambarkan “huruf kecil’, atau lawan dari huruf kapital.

Arti ini menjadi topik unik saat kamu membahas penulisan atau tipografi dengan teman atau mengikuti diskusi bahasa sehari-hari.

Istilah ini datang dari lingkungan Badan Bahasa, yang awalnya bermula dari percakapan internal, yang kemudian divalidasi oleh tim redaksi.

Artiket Terkait:  Nominasi Penerbit Buku Terbaik versi Perpusnas RI 2023

Hal ini memicu banyak reaksi dari netizen media sosial, di mana sebagian besar menganggap bahwa istilah kapitil terdengar kurang layak dan seharusnya tidak tim redaksi daftarkan di KBBI apabila hanya bagian dari percakapan internal.

2.     Mager

Istilah mager merupakan singkatan dari “malas gerak” yang sering digunakan untuk menggambarkan kondisi enggan melakukan aktivitas.

Kata ini lahir dari kebiasaan bahasa percakapan anak muda dan berkembang luas melalui media sosial. Seiring waktu, penggunaannya semakin meluas lintas generasi.

3.     Julid

Kata julid digunakan untuk menggambarkan sikap sinis, iri, atau gemar mengomentari orang lain secara negatif.

Istilah ini banyak muncul dalam percakapan daring, terutama saat membahas fenomena viral. Dari waktu ke waktu, maknanya semakin jelas dan kontekstual.

Sebagian netizen menilai kehadiran ‘julid’ di KBBI membantu memperjelas makna yang selama ini penggunaannya secara bebas, namun ada pula yang menganggap kata ini terlalu bernuansa negatif untuk dibakukan.

Perdebatan tersebut justru menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap perkembangan bahasa.

4.     Ambyar

Ambyar sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang hancur, berantakan, atau gagal total.

Popularitas kata ini meningkat pesat berkat budaya populer, termasuk musik dan percakapan media sosial. Kata ini kemudian melekat sebagai ekspresi emosional yang kuat.

Ketika KBBI memasukkan ambyar, banyak yang merasa istilah ini sudah layak diakui secara resmi, apalagi setelah dipopulerkan oleh penyanyi bernama Didi Kempot.

Kehadirannya merepresentasikan ekspresi perasaan yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari, terutama kalangan generasi muda.

5.     Saltik

Istilah saltik berasal dari frasa “sal tik” atau “salah ketik” yang sering terjadi dalam komunikasi digital, atau lebih seringnya kita sebut dengan ‘typo’.

Kata ini digunakan untuk menjelaskan kesalahan penulisan yang tidak disengaja, terutama saat mengetik cepat. Dalam konteks daring, saltik menjadi istilah yang sudah cukup familiar.

Artiket Terkait:  Hati-Hati! Begini Cara Memeriksa Kredibilitas Buku

Pengakuan saltik sebagai bagian dari kosakata KBBI memperlihatkan pengaruh teknologi terhadap bahasa. Banyak warganet menyambutnya dengan antusias karena istilah ini mencerminkan realitas komunikasi modern yang serba cepat.

6.     Lantatur

Berbeda dari istilah sebelumnya, lantatur masih terdengar asing bagi sebagian orang. Kata lantatur memiliki makna yang berarti “layanan tanpa turun” atau yang kita lebih familiar dengan istilah “drive-thru”.

Istilah ini jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari, sehingga keberadaannya dalam KBBI terasa cukup mengejutkan bagi pembaca umum.

Meski belum populer, lantatur tetap membuka peluang bagi pengguna bahasa untuk mengenal istilah baru yang lebih spesifik.

Dengan pemahaman yang tepat, kata ini dapat kamu gunakan dalam konteks formal maupun akademik secara lebih akurat.

Penutup

Masuknya berbagai istilah baru ke dalam KBBI menegaskan bahwa bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti zaman.

Dari kata populer seperti mager dan ambyar, hingga istilah yang mungkin masih asing, seperti galgah dan lantatur, semuanya memperkaya cara kita berkomunikasi.

Memahami perubahan ini membantu kita meningkatkan literasi bahasa dan menggunakan kata secara lebih tepat.

Bagi pembaca yang ingin terus mengikuti perkembangan bahasa, literasi, dan dunia kebahasaan secara mendalam, penerbit dan platform literasi seperti Nasmedia dapat memberi kamu rujukan-rujukan yang pastinya relevan, dan juga menarik.

Dengan memperluas wawasan melalui bacaan-bacaan yang benar, kita ikut menjaga bahasa Indonesia tetap hidup, dinamis, dan bermakna.

Share

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on telegram
Hikmah Wardani
Hikmah Wardani
Menekuni Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris sejak tahun 2022. Berkeinginan untuk mengembangkan kemampuan menulis dan berbagi cerita melalui kata-kata.
Artikel Terkait