Nur Ainun Afiah
Nur Ainun Afiah
Nur Ainun Afiah, lulusan sarjana Universitas Hasanuddin. Aktif dalam bidang kepenulisan sejak 2020. Pernah menjabat Redaktur Pelaksana PK identitas Unhas 2023, editor buku biografi Prof. Basri Hasanuddin, dan satu dari dua penulis buku Apa dan Siapa Kru identitas.

Apakah Menulis Masih Relevan di Era Video Pendek?

Daftar Isi

Video berdurasi 15–60 detik kini menguasai linimasa. Sekali geser, satu cerita selesai. Cepat, visual, dan instan.

Di tengah dominasi konten video pendek, muncul pertanyaan yang sering terlontar, terutama di kalangan kreator dan penulis, apakah menulis masih relevan?

Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Tapi satu hal pasti, ia belum mati.

Video Cepat, Tulisan Bertahan

Video pendek unggul dalam menarik perhatian, tetapi lemah dalam kedalaman. Ia menyentuh emosi sesaat, lalu pergi.

Tulisan bekerja dengan cara sebaliknya, lebih pelan, lebih tenang, namun punya daya tinggal yang panjang.

Tulisan memberi ruang untuk penjelasan, konteks, dan argumentasi yang tidak bisa diringkas dalam hitungan detik.

Ketika sebuah isu butuh kejelasan, analisis, atau refleksi, tulisan masih jadi medium paling masuk akal.

Video bisa memantik rasa penasaran, tapi tulisanlah yang menjawabnya.

 Proses Berpikir

Di era video pendek, menulis justru berfungsi sebagai alat berpikir.

Menyusun kalimat berarti menyusun logika. Merangkai paragraf berarti merapikan gagasan. Inilah keunggulan menulis yang tidak tergantikan oleh visual cepat.

Banyak konten video yang viral lahir dari naskah yang matang. Caption, skrip, dan konsep tetap berangkat dari proses menulis.

Artinya, video dan tulisan bukan musuh, tulisan adalah fondasinya.

Algoritma Bisa Mengubah Tren

Tren bisa bergeser, algoritma bisa berubah, tapi kebutuhan manusia untuk memahami tidak ikut menghilang. Di sinilah tetap relevan.

Artikel, esai, opini, dan buku masih memainkan peran penting dalam menjelaskan dunia yang semakin kompleks.

Video pendek sering menyederhanakan realitas. Tulisan memberi ruang untuk kerumitan. Di tengah banjir informasi, pembaca yang mencari makna akan selalu ada.

Menulis di Era Video

Relevansi menulis hari ini bukan soal menyaingi video, melainkan beradaptasi.

Artiket Terkait:  Tertarik Membuat Tesis atau Disertasi Menjadi Buku? Perhatikan Beberapa Hal Berikut Ini

Gayanya bisa lebih ringkas, lebih kontekstual, dan lebih dekat dengan pembaca. Platform boleh berubah, tapi esensi menulis, menyampaikan gagasan, tetap sama.

Menulis dapat hidup berdampingan dengan video, artikel memperkaya diri dengan video, video lahir dari tulisan, dan tulisan berfungsi sebagai arsip pengetahuan jangka panjang.

Video mudah viral, tapi juga mudah hilang.

Tulisan adalah jejak. Tulisan memungkinkan pembaca membacanya ulang, mengutipnya, dan mewariskannya lintas generasi.

Banyak gagasan besar bertahan bukan karena videonya, tetapi karena tulisannya.

Di era serba cepat, menulis adalah bentuk perlambatan yang disengaja. Sebuah upaya untuk berpikir lebih jernih di tengah kebisingan visual.

Jadi, Masih Relevan?

Menulis bukan hanya relevan, tapi adalah hal yang krusial.

Justru ketika dunia dipenuhi potongan video singkat, tulisan hadir sebagai penyeimbang.

Share

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on telegram
Nur Ainun Afiah
Nur Ainun Afiah
Nur Ainun Afiah, lulusan sarjana Universitas Hasanuddin. Aktif dalam bidang kepenulisan sejak 2020. Pernah menjabat Redaktur Pelaksana PK identitas Unhas 2023, editor buku biografi Prof. Basri Hasanuddin, dan satu dari dua penulis buku Apa dan Siapa Kru identitas.
Artikel Terkait