Andi Niftah
Andi Niftah
Mahasiswa S1 Sastra Inggris yang gemar membaca dan selalu tertarik dengan dunia kata dan cerita.

Parafrase: Pengertian, Jenis dan Teknik

Daftar Isi

Pendahuluan

Pernah tidak kamu bingung bagaimana cara menulis ulang sebuah teks tanpa terkesan menyontek?

Nah, di situlah parafrase berperan penting. Parafrase adalah cara kita menulis ulang gagasan orang lain dengan bahasa kita sendiri, tapi tetap mempertahankan maknanya.

Banyak mahasiswa, penulis, dan bahkan dosen sering melakukan parafrase ketika sedang menulis artikel, makalah, atau karya ilmiah. Namun, masih banyak juga yang salah paham. Ada yang mengira parafrase itu cuma “mengganti kata dengan sinonim”, padahal sebenarnya lebih dalam dari itu.

Artikel ini akan membahas tentang Parafrase: Pengertian, Jenis, dan Teknik.

Pengertian Parafrase

Secara sederhana, parafrase berarti menulis kembali makna atau isi sebuah teks dengan kata-kata baru tanpa mengubah artinya. Jadi, kamu menulis ulang ide yang sama dengan gaya bahasamu sendiri. Maknanya tetap sama, tapi susunan kata dan gaya bahasanya berubah.

Dalam dunia akademik, parafrasa punya fungsi yang sangat penting. Misalnya saat kamu menulis skripsi atau jurnal, kamu butuh mengutip teori orang lain.

Nah, kalau kamu menyalin persis kata-kata dari sumbernya tanpa tanda kutip dan referensi, itu adalah plagiarisme. Tapi kalau kamu memparafrasekan dengan baik, kamu tetap bisa menyampaikan ide yang sama, tapi dengan gaya bahasa kamu sendiri.

Parafrase juga bikin tulisan terasa lebih mengalir, alami, dan tidak kaku.

Jenis-Jenis Parafrase

1. Parafrase Ekuivalen

Jenis ini adalah bentuk parafrase yang paling umum. Kamu cukup mengganti kata atau struktur kalimat dengan bentuk lain yang setara makna (ekuivalen). Jadi, maknanya tetap sama, tapi penyampaiannya berbeda.

Misalnya “Pendidikan adalah kunci untuk mengubah dunia” ubah menjadi “Melalui pendidikan, manusia mampu menciptakan perubahan besar di dunia.”

2. Parafrase Keantoniman Ingkaran

Parafrase ini menggunakan antonim atau bentuk ingkar/negatif dari kata aslinya. Artinya dibalik dengan menambahkan unsur penyangkalan seperti tidak, bukan, jarang, dan sejenisnya. Hasilnya tetap bermakna sama, tapi disampaikan lewat sisi kebalikan.

Artiket Terkait:  Tips Aman Menerbitkan Buku Tanpa Takut Plagiarisme

Contohnya: “Ia sering gagal dalam ujian” menjadi “Ia tidak sering berhasil dalam ujian.” Atau, “Siswa itu malas belajar.” Parafrase menjadi “Siswa itu tidak rajin belajar.”

3. Parafrase Generik–Spesifik

Jenis ini memanfaatkan perubahan tingkat makna dari umum ke khusus (spesifik) atau sebaliknya. Tujuannya untuk menyesuaikan fokus atau cakupan ide dalam konteks tulisan.

Contoh Generik → Spesifik: “Hewan itu berbahaya” menjadi “Harimau itu berbahaya”

Contoh Spesifik → Generik: “Harimau termasuk hewan berbahaya” parafrase: “Beberapa hewan bisa sangat berbahaya”

4. Parafrase Amplifikasi (Pelebaran Makna)

Parafrase amplifikasi dilakukan dengan menambah keterangan, penjelasan, atau informasi pendukung untuk memperkaya makna kalimat. Teknik ini cocok saat kamu ingin membuat kalimat lebih detail, kontekstual, dan bernuansa reflektif.

Contohnya: “Pendidikan penting bagi masa depan” parafrase menjadi “Pendidikan sangat penting bagi masa depan karena melalui pendidikan seseorang dapat mengembangkan potensi, keterampilan, dan cara berpikir kritis.”

5. Parafrase Kontraksi (Pemadatan Makna)

Kebalikan dari amplifikasi, kontraksi justru memadatkan isi kalimat dengan cara membuang unsur yang tidak penting, tanpa mengubah inti maknanya.

Misalnya: “Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter, mengembangkan potensi, serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa” menjadi “Pendidikan membantu membentuk karakter dan potensi diri.”

6. Parafrase Rangkuman

Kalau teks aslinya panjang dan memuat banyak ide, maka kamu bisa melakukan parafrasa dengan merangkum gagasan utamanya saja. Jenis ini sering dipakai untuk meringkas teori, hasil penelitian, atau paragraf padat dalam karya ilmiah.

Misalnya: “Literasi digital adalah kemampuan untuk memahami, menilai, dan menggunakan informasi dari internet dengan bijak. Keterampilan ini membantu seseorang menjadi pengguna teknologi yang cerdas dan bertanggung jawab” diparafrase menjadi “Literasi digital membantu seseorang menggunakan informasi dari internet secara cerdas dan bertanggung jawab.”

Artiket Terkait:  Cari Jasa Konversi Karya Ilmiah Jadi Buku Ber-ISBN? Nasmedia Solusinya!

Teknik Parafrase

1. Gunakan Sinonim Kata

Ini adalah teknik paling dasar dan sering di pakai. Ganti kata-kata tertentu dengan sinonim yang punya makna sama. Tapi hati-hati, tidak semua sinonim cocok di semua konteks.

Contoh: “Guru menjelaskan pelajaran dengan sabar” menjadi “Pengajar menerangkan materi dengan tenang.”

Kata guru bisa diganti pengajar, menjelaskan bisa diganti menerangkan. Tapi kalau kamu salah konteks, bisa bikin makna kalimat berubah.

2. Gabungkan Dua Kalimat yang Mirip

Kalau kamu menemukan dua kalimat yang punya ide serupa, maka kamu bisa gabungkan jadi satu. Ini sering di lakukan untuk membuat paragraf lebih padat dan efisien.

Contoh: “Dia rajin belajar. Dia ingin sukses” menjadi “Dia rajin belajar karena ingin sukses.” Teknik ini bukan cuma menghemat kata, tapi juga bikin tulisan terasa lebih menyatu.

3. Ubah Struktur Kalimat

Dengan teknik ini, kamu bisa ubah kalimat aktif jadi pasif, atau sebaliknya. Cara ini efektif untuk menghindari kemiripan struktur dengan sumber asli.

Contoh: “Mahasiswa meneliti pengaruh media sosial terhadap perilaku belajar” menjadi “Pengaruh media sosial terhadap perilaku belajar diteliti oleh mahasiswa.”

4. Ubah Urutan Ide

Kamu bisa menyusun ulang urutan gagasan tanpa mengubah makna keseluruhan. Gunakan jika teksnya panjang dan banyak klausa.

Contoh: “Karena hujan deras, kegiatan lapangan dibatalkan” diubah menjadi “Kegiatan lapangan dibatalkan karena hujan deras.”

5. Gunakan Kalimat Sendiri

Kamu bisa menjelaskan ulang makna dengan gaya bahasamu sendiri, tanpa mengubah intinya. Teknik ini cocok buat kamu yang ingin menulis dengan gaya naratif tapi tetap akademis.

Penutup

Parafrase bukan hanya membantu seseorang menghindari plagiarisme, tetapi juga menunjukkan kecerdasan berbahasa dan kemampuannya memahami teks. Kemampuan parafrasa membuat seseorang mampu menghasilkan karya yang orisinal, bermakna, dan tetap menghargai sumber referensi.

Artiket Terkait:  Menulis KTI di Era AI: Kapan Jadi Bantuan dan Kapan Jadi Bahaya?

Dengan menguasai berbagai jenis dan teknik parafrase, kamu bisa menulis lebih fleksibel, mengembangkan gaya bahasa sendiri, serta menyampaikan ide secara kreatif. Jadi, mulai sekarang, biasakan menulis ulang gagasan dengan caramu sendiri.

Share

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on telegram
Andi Niftah
Andi Niftah
Mahasiswa S1 Sastra Inggris yang gemar membaca dan selalu tertarik dengan dunia kata dan cerita.
Artikel Terkait