{"id":5427,"date":"2025-09-23T14:54:05","date_gmt":"2025-09-23T07:54:05","guid":{"rendered":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/?p=5427"},"modified":"2025-10-01T08:16:43","modified_gmt":"2025-10-01T01:16:43","slug":"sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/","title":{"rendered":"Sejarah Penerbitan Buku di Indonesia; Dari Mesin Cetak VOC Hingga Era Modern"},"content":{"rendered":"<h1>\u00a0Pendahuluan<\/h1>\n<p><a href=\"https:\/\/penerbitdeepublish.com\/seputar-penerbit\/\">Sejarah penerbitan buku di Indonesia<\/a> adalah kisah panjang tentang kekuasaan, pendidikan, dan perjuangan bangsa dalam <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/peran-literasi-dalam-meningkatkan-kualitas-hidup-masyarakat\/\">merawat literasi<\/a>.<\/p>\n<p>Pernahkah kamu membayangkan bagaimana wajah Indonesia jika tidak ada <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/rekomendasi-buku-lokal-untuk-menemani-me-time\/\">buku<\/a>? Tanpa buku pelajaran, bangsa ini mungkin sulit melahirkan generasi terdidik. Tanpa <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/tips-jitu-menulis-alur-cerita-novel-best-seller\/\">novel<\/a>, kita kehilangan cermin kebudayaan dan kritik sosial. Dan tanpa <a href=\"https:\/\/penerbitdeepublish.com\/seputar-penerbit\/\">sejarah penerbitan<\/a>, kita tidak akan pernah mengetahui bagaimana ide besar lahir.<\/p>\n<p>Kisah <a href=\"https:\/\/bintangpustaka.com\/mengulik-sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia\/\">sejarah penerbitan buku di Indonesia<\/a> bukan hanya soal <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/perbedaan-penerbit-dan-percetakan-yang-wajib-kalian-tahu\/\">mencetak<\/a> halaman demi halaman, tetapi juga tentang kekuasaan, kontrol, dan perjuangan menuju kebebasan berfikir hingga melahirkan <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/literasi-sebagai-fondasi-pembangunan-bangsa-di-era-digital\/\">budaya literasi<\/a> modern.<\/p>\n<h2>Dari Papirus ke Mesin Cetak Gutenberg (1450-an)<\/h2>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-5435\" src=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Papirus.jpg\" alt=\"\" width=\"717\" height=\"418\" srcset=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Papirus.jpg 717w, https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Papirus-300x175.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 717px) 100vw, 717px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Sumber: Wikipedia<\/em><\/p>\n<p>Sebelum sampai ke Indonesia, mari sejenak mundur jauh ke Eropa abad ke-15. Pada masa purba, bangsa Mesir menulis di atas kertas <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2021\/09\/07\/103000679\/papirus-media-untuk-menulis-dari-zaman-mesir-kuno\">papirus<\/a> yaitu lembaran yang dibuat dari daun tumbuhan bernama\u00a0<em>papyrus,\u00a0<\/em>yang kemudian menjadi asal kata papier dalam bahasa Belanda.<\/p>\n<p>Sekitar tahun 1450-an <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2021\/10\/12\/090000579\/biografi-johannes-gutenberg-penemu-mesin-cetak\">Johanes Gutenberg<\/a> menemukan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Mesin_cetak\">mesin cetak<\/a>. Penemuan ini merevolusi dunia, buku yang sebelumnya hanya ditulis tangan di biara-biara, kini bisa diproduksi massal. Inilah yang kelak masuk ke Hindia Belanda bersama kolonialisme.<\/p>\n<h2>Kedatangan Mesin Cetak VOC di Batavia (1619-1778)<\/h2>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-5440\" src=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/mesin-cetak.jpg\" alt=\"\" width=\"500\" height=\"630\" srcset=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/mesin-cetak.jpg 500w, https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/mesin-cetak-238x300.jpg 238w\" sizes=\"(max-width: 500px) 100vw, 500px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Sumber: Wikipedia<\/em><\/p>\n<p>Tahun 1619, VOC menjadikan Batavia sebagai pusat kekuasaan di Hindia Belanda. Bersamaan dengan itu, <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2021\/10\/13\/100000979\/bagaimana-gutenberg-menemukan-mesin-cetak\">mesin cetak pertama<\/a> dibawah ke tanah air. Awalnya, fungsinya sederhana: mencetak pamflet, pengumuman, hingga surat kabar untuk kepentingan dagang dan kontrol informasi. Dari mesin inilah lahir koran pertama <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2024\/05\/23\/150000779\/bataviasche-nouvelles-surat-kabar-pertama-di-indonesia\"><em>Bataviaasche Nouvelles<\/em><\/a> pada tahun 1744.<\/p>\n<p>Pada 1778, Belanda mendirikan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Koninklijk_Bataviaasch_Genootschap_van_Kunsten_en_Wetenschappen\"><em>Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Watenschappen<\/em><\/a>, sebuah lembaga ilmu pengetahuan dengan perpustakaan yang kaya akan manuskrip budaya dan sains. Inilah cikal bakal perpustakaan modern Indonesia.<\/p>\n<h2>Landsdrukkerij: Penerbit Resmi Kolonial (1809)<\/h2>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-5445\" src=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/landsdrukkerij-wikipedia.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"492\" srcset=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/landsdrukkerij-wikipedia.jpg 700w, https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/landsdrukkerij-wikipedia-300x211.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Sumber: Wikipedia<\/em><\/p>\n<p>Memasuki abad ke-19<a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Herman_Willem_Daendels\">, Gubernur Jenderal Daendels<\/a> mendirikan <a href=\"https:\/\/intisari.grid.id\/read\/033951300\/peristiwa-berdirinya-landsdrukkerij-percetakan-negara-pertama-di-hindia-belanda-yang-dibangun-oleh-daendels\"><em>Landsdrukkerij<\/em><\/a> pada 22 November 1809. Percetakan ini mencetak laporan pemerintah, <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/apa-bedanya-menulis-kreatif-dan-menulis-akademik\/\">buku sekolah<\/a>, hingga dokumen resmi.<\/p>\n<h2>Misionaris dan Perkembangan Literasi (1828-1840-an)<\/h2>\n<p>Tahun 1828, misionaris Inggris bernama Mendhrust tiba di Batavia. Ia bersama rekan dari Amerika mulai <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/perbedaan-penerbit-dan-percetakan-yang-wajib-kalian-tahu\/\">mencetak buku<\/a> buku agama dan pendidikan. Untuk pertama kalinya, masyarakat pribumi diperkenalkan pada bacaan diluar teks resmi pemerintah.<\/p>\n<p>Namun, ketika mereka pindah ke Tiongkok pada 1840-an,<a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/perbedaan-penerbit-dan-percetakan-yang-wajib-kalian-tahu\/\"> percetakan<\/a> ini meredup. Walau begitu, benih sejarah <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/peran-literasi-dalam-meningkatkan-kualitas-hidup-masyarakat\/\">literasi<\/a> pribumi sudah tertanam.<\/p>\n<h2>Aturan izin ketat penerbitan di berlakukan (1856)<\/h2>\n<p>Namun, ada aturan keras yang lahir pada 1856 <em>\u201csiapa pun yang ingin mendirikan percetakan wajib meminta izin dan membayar uang jaminan\u201d<\/em> bahkan, setiap <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/6-cara-mengubah-mindset-anak-muda-tentang-buku\/\">buku<\/a> wajib dikirimkan ke pemerintah sebelum terbit. Dengan begitu, kolonial bisa mengontrol isi bacaan agar tidak mampu memicu perlawanan.<\/p>\n<h2>Penerbit Tionghoa Peranakan: Bahasa Melayu Pasar (1880-1920-an)<\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-5449\" src=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/penerbit-tionghoa.jpg\" alt=\"\" width=\"651\" height=\"446\" srcset=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/penerbit-tionghoa.jpg 651w, https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/penerbit-tionghoa-300x206.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 651px) 100vw, 651px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Sumber: Kompasiana.com<\/em><\/p>\n<p>Menjelang akhir abad ke-19, lahirlah pemain baru: <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/7-hal-wajib-pertimbangan-penulis-dalam-memilih-penerbit-buku\/\">penerbit<\/a> Tionghoa peranakan\u2014keturunan Tionghoa yang telah berakulturasi dengan budaya lokal. Mereka <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/rekomendasi-buku-lokal-untuk-menemani-me-time\/\">mencetak novel<\/a>, cerita rakyat, hingga koran berbahasa Melayu pasar\u2014bahasa sehari-hari yang akrab ditelinga masyarakat.<\/p>\n<p>Salah satu tokoh legendaris adalah <a href=\"https:\/\/oktana.co.id\/boekhandel-tan-khoen-swie-lebih-tua-dari-balai-pustaka-dan-misi-menghidupkan-sastra\/\">Tan Khoen Swie<\/a> dari Kediri. Ia mendirikan <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/daftar-penerbit-buku-terbaik-di-indonesia\/\">penerbit<\/a> yang aktif sejak 1910-an dan <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/mengapa-harus-menerbitkan-buku-ini-dia-alasannya\/\">menerbitkan<\/a> ratusan buku tentang budaya Jawa, filsafat, hingga ilmu kebatinan dan pengobatan<a href=\"https:\/\/oktana.co.id\/boekhandel-tan-khoen-swie-lebih-tua-dari-balai-pustaka-dan-misi-menghidupkan-sastra\/\">. <\/a><a href=\"https:\/\/oktana.co.id\/boekhandel-tan-khoen-swie-lebih-tua-dari-balai-pustaka-dan-misi-menghidupkan-sastra\/\">Toko bukunya<\/a> ramai oleh pembeli dari berbagai kalangan, dari kaum elite hingga rakyat biasa.<\/p>\n<h2>Komisi Bacaan Rakyat Dan Lahirnya Balai Pustaka (1908-1917)<\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-5452\" src=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/volklestuur.webp\" alt=\"\" width=\"678\" height=\"381\" srcset=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/volklestuur.webp 678w, https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/volklestuur-300x169.webp 300w\" sizes=\"(max-width: 678px) 100vw, 678px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Sumber: Bintangpustaka.com.<\/em><\/p>\n<p>Tanggal 14 September 1908, Belanda membentuk <a href=\"https:\/\/elshinta.com\/news\/279176\/2022\/09\/14\/14-september-1908-awal-berdirinya-perusahaan-penerbitan-dan-percetakan-milik-negara-balai-pustaka\"><em>Commissie voor de Inlandsche School en Volksclectuur<\/em><\/a> atau <a href=\"https:\/\/ensiklopedia.kemdikbud.go.id\/sastra\/artikel\/Komisi_Bacaan_Rakyat\">Komisi Bacaan Rakyat<\/a>. Tujuannya menyediakan bacaan yang \u201cbermanfaat\u201d bagi pribumi. Tentu saja, yang dimaksud adalah bacaan yang tidak mengkritik pemerintah kolonial.<\/p>\n<p>Di bawah pimpinan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/D.A._Rinkes\">D.A Rinkes,<\/a> komisi ini menerjemahkan karya-karya besar dunia ke bahasa Jawa, Sunda, dan Melayu. Lahirlah buku Charles Dicknes, dan Mark Twain serta kisah-kisah rakyat Nusantara lainnya. Pada 22 September 1917, komisi ini resmi berubah nama menjadi <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Balai_Pustaka\"><em>Kantoor voor de Volkslectuur<\/em><\/a><em>.<\/em><\/p>\n<h2>Balai Pustaka: Lahirnya Sastra Modern (1918-1921)<\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-5454\" src=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/balai-pustaka-2.jpg\" alt=\"\" width=\"330\" height=\"201\" srcset=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/balai-pustaka-2.jpg 330w, https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/balai-pustaka-2-300x183.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 330px) 100vw, 330px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Sumber:Wikipedia<\/em><\/p>\n<p>Tahun 1918, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Balai_Pustaka\"><em>Kantoor voor de Volkslectuur<\/em> <\/a>\u00a0resmi berganti nama sebagai <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Balai_Pustaka\">Balai Pustaka<\/a>. Dua tahun kemudian, Balai pustaka <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/mengapa-harus-menerbitkan-buku-ini-dia-alasannya\/\">menerbitkan<\/a> novel <a href=\"https:\/\/indonesiakaya.com\/pustaka-indonesia\/azab-dan-sengsara-karya-merari-siregar\/\"><em>Azab dan Sengsara<\/em><\/a>, lalu menyusul <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sitti_Nurbaya\"><em>Sitti Nurbaya<\/em><\/a> karya Marah Rusli, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Belenggu_(novel)\"><em>Belenggu<\/em><\/a> karya Armijn Pane serta <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Layar_Terkembang\"><em>Layar Terkembang<\/em><\/a> \u00a0karya Sutan Takdir Alisjahbana.<\/p>\n<p>Pada 1921, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Balai_Pustaka\">Balai Pustaka<\/a> sudah memiliki <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/perbedaan-penerbit-dan-percetakan-yang-wajib-kalian-tahu\/\">percetakan<\/a> sendiri. Pada masa itu masyarakat menganggap <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/ketahui-manfaat-membaca-buku\/\">membaca<\/a> karya <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Balai_Pustaka\">Balai Pustaka<\/a> sebagai tanda prestise, karena penulis menggunakan bahasa Melayu Tinggi\u2014Bahasa kamu terpelajar. Dari sinilah lahir istilah <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/skola\/read\/2022\/11\/25\/210000069\/mengenal-angkatan-balai-pustaka-dalam-sejarah-sastra-indonesia\">Angkatan Balai Pustaka<\/a><strong>,<\/strong> generasi pertama <a href=\"https:\/\/www.indonesiana.id\/read\/155719\/sastra-indonesia-modern\">sastra modern Indonesia.<\/a><\/p>\n<h2>Bacaan Liar Dan Pergerakan Nasional (1920-1930-an)<\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-5457\" src=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Medan_Prijaji.jpg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"630\" srcset=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Medan_Prijaji.jpg 800w, https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Medan_Prijaji-300x236.jpg 300w, https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Medan_Prijaji-768x605.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Sumber: Wikipedia<\/em><\/p>\n<p>Namun, dibalik megahnya <a href=\"https:\/\/girimu.com\/sejarah-balai-pustaka-bandungmu-com\/\">Balai Pustaka<\/a>. Berbagai pihak menerbitkan \u201c<a href=\"https:\/\/www.tempo.co\/teroka\/ulasan-buku-bacaan-liar-kaum-pergerakan-844382\">bacaan liar<\/a>\u201d berupa <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/7-alasan-mengapa-generasi-muda-mulai-meninggalkan-buku\/\">buku<\/a>, pamflet, dan koran di luar kontrol pemerintah. <a href=\"https:\/\/www.tempo.co\/teroka\/ulasan-buku-bacaan-liar-kaum-pergerakan-844382\">Bacaan liar<\/a> berisi gagasan nasionalisme, sosialisme, hingga pemogokan buruh.<\/p>\n<p>Nama besar seperti <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Tirto_Adhi_Soerjo\">Tirto Adhi Soerjo<\/a> pelopor koran pribumi <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/wiwik-damayanti-1647749461321533966\/surat-kabar-medan-prijaji-sang-pelopor-munculnya-pers-nasional-1xii1TafVFZ\/3\"><em>Medan Prijaji<\/em><\/a> menjadi simbol perlawanan. Di pojok-pojok kampung, para buruh dan petani <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/ketahui-manfaat-membaca-buku\/\">membaca<\/a> selebaran tentang kapitalisme dan pergerakan rakyat. Inilah bukti bahwa <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/literasi-sebagai-fondasi-pembangunan-bangsa-di-era-digital\/\">literasi<\/a> mampu menjadi senjata politik.<\/p>\n<h2>Penduduk Jepang (1942-1945)<\/h2>\n<p>Saat Jepang masuk, kontrol makin ketat. Jepang menjadikan semua buku, koran hingga radio sebagai alat propaganda, lalu mengganti bacaan bebas dengan materi yang mendukung kekuasaan mereka. Meski demikian, ini justru mengajarkan bahwa <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/rekomendasi-buku-lokal-untuk-menemani-me-time\/\">buku<\/a> bisa menjadi alat penindasan, sekaligus kebangkitan.<\/p>\n<h2>Masa kemerdekaan (1947-1955)<\/h2>\n<p>Pasca kemrdekaan, <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/daftar-penerbit-buku-terbaik-di-indonesia\/\">penerbitan buku<\/a> menjadi bagian dari perjuangan. Tahun 1947, berdiri <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Stichting_Opbouw-Pembangoenan\"><em>Sticthing Opbouw Pembangoenan<\/em><\/a><em>,<\/em> yang <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/kenali-3-jenis-penerbitan-buku-di-indonesia\/\">menerbitkan<\/a> karya bernuansa nasionalis dan menerjemahkan ilmu pengetahuan untuk rakyat Indonesia.<\/p>\n<p>Pada periode ini, <a href=\"https:\/\/girimu.com\/sejarah-balai-pustaka-bandungmu-com\/\">Balai Pustaka<\/a> juga resmi berada di bawah kendali Republik Indonesia. Bersamaan dengan itu, <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/7-hal-wajib-pertimbangan-penulis-dalam-memilih-penerbit-buku\/\">penerbit<\/a> swasta nasional bermunculan di berbagai kota, dari Jakarta hingga Sumatera.<\/p>\n<h2>Era Modern (1950-sekarang)<\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-5458\" src=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/gunung-agung-penerbit.webp\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"450\" srcset=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/gunung-agung-penerbit.webp 800w, https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/gunung-agung-penerbit-300x169.webp 300w, https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/gunung-agung-penerbit-768x432.webp 768w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>Sumber: Liputan6.com<\/em><\/p>\n<p>Memasuki 1950-an, lahir <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/daftar-penerbit-buku-terbaik-di-indonesia\/\">penerbit<\/a> besar seperti <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Toko_Gunung_Agung\">Gunung Agung<\/a> (1953) yang mendirikan toko <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/7-alasan-mengapa-generasi-muda-mulai-meninggalkan-buku\/\">buku<\/a> di Jakarta. Pada tahun 1974, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ichtiar_Baru_van_Hoeve\">Ichtiar Baru van Hoeve<\/a> <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/3-proses-penting-yang-wajib-kamu-lakukan-sebelum-menerbitkan-buku\/\">menerbitkan<\/a> ensiklopedia, kemudian sejan 1960-an kelompok besar seperti <a href=\"https:\/\/kompasgramedia.com\/\">Kompas Gramedia<\/a> mulai mendominasi pasar.<\/p>\n<p>Di era digital, <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/penerbit-buku-murah-cepat-dan-berkualitas\/\">penerbit<\/a> seperti <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/\">Nasmedia<\/a> ikut hadir dengan model <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/cara-mudah-menerbitkan-buku-dengan-penerbit-self-publishing\/\">self-publishing<\/a>, memberikan kesempatan lebih luas bagi <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/apa-bedanya-menulis-kreatif-dan-menulis-akademik\/\">penulis akademik<\/a> maupun umum untuk <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/cara-menerbitkan-buku-sendiri\/\">menerbitkan<\/a> karya mereka. <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/kenali-3-jenis-penerbitan-buku-di-indonesia\/\">Dunia penerbitan<\/a> pun bertransformasi dari <a href=\"https:\/\/mesin.ft.unesa.ac.id\/post\/sejarah-dan-perkembangan-mesin-cetak-dari-skala-besar-hingga-printer-rumahan\">mesin cetak<\/a> kolonial hingga <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/alasan-mengapa-harus-menerbitkan-ebook\/\">e-book<\/a> di smartphone.<\/p>\n<h1>Penutup<\/h1>\n<p><a href=\"https:\/\/bintangpustaka.com\/mengulik-sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia\/\">Sejarah penerbitan buku di Indonesia<\/a> adalah kisah panjang tentang kontrol, kreativitas, dan perlawanan. Dari mesin cetak VOC di Batavia, percetakan <a href=\"https:\/\/intisari.grid.id\/read\/033951300\/peristiwa-berdirinya-landsdrukkerij-percetakan-negara-pertama-di-hindia-belanda-yang-dibangun-oleh-daendels\"><em>Landsdrukkerij<\/em><\/a><strong>, <\/strong>misionaris, penerbit Tionghoa<strong>,<\/strong> hingga lahirnya <a href=\"https:\/\/girimu.com\/sejarah-balai-pustaka-bandungmu-com\/\">Balai Pustaka<\/a> dan <a href=\"https:\/\/www.tempo.co\/teroka\/ulasan-buku-bacaan-liar-kaum-pergerakan-844382\">bacaan liar<\/a>, semuanya menunjukan bahwa <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/mengapa-harus-menerbitkan-buku-ini-dia-alasannya\/\">buku<\/a> bukan sekadar kertas. <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/mengapa-harus-menerbitkan-buku-ini-dia-alasannya\/\">Buku<\/a> adalah senjata, media perlawanan, sekaligus jendela peradaban.<\/p>\n<p>Hari ini, tantangan baru datang dari digitalisasi dan <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/mengapa-budaya-membaca-menurun-dan-bagaimana-mengatasinya\/\">menurunnya minat baca<\/a>. Tapi sejarah mengingatkan kita bahwa tanpa <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/mengapa-harus-menerbitkan-buku-ini-dia-alasannya\/\">buku<\/a>, tanpa <a href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/penerbit-buku-murah-cepat-dan-berkualitas\/\">penerbit,<\/a> bangsa ini tak akan pernah sampai pada kesadaran yang melahirkan kemerdekaan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0Pendahuluan Sejarah penerbitan buku di Indonesia adalah kisah panjang tentang kekuasaan, pendidikan, dan perjuangan bangsa dalam merawat literasi. Pernahkah kamu membayangkan bagaimana wajah Indonesia jika tidak ada buku? Tanpa buku pelajaran, bangsa ini mungkin sulit melahirkan generasi terdidik. Tanpa novel, kita kehilangan cermin kebudayaan dan kritik sosial. Dan tanpa sejarah penerbitan, kita tidak akan pernah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":156,"featured_media":5432,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[429,248,430,53,427,64,421,422,14,184,431,428],"class_list":["post-5427","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel-tips","tag-balai-pustaka","tag-gerakan-literasi","tag-komisi-bacaan-rakyat","tag-literasi","tag-mesin-cetak","tag-nasmedia","tag-penerbit","tag-penerbitan","tag-percetakan-buku","tag-sejarah","tag-toko-buku","tag-voc"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v21.5 (Yoast SEO v27.4) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Sejarah Penerbitan Buku di Indonesia; Dari Mesin Cetak VOC Hingga Era Modern - Nasmedia Blog - Info Penulis, Buku, Penerbit dan Artikel<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Sejarah penerbitan buku di Indonesia adalah kisah panjang tentang kontrol, kreativitas, dan perlawanan. Dari mesin cetak VOC di Batavia, percetakan Landsdrukkerij, misionaris, penerbit Tionghoa, hingga lahirnya Balai Pustaka dan bacaan liar, semuanya menunjukan bahwa buku bukan sekadar kertas. Buku adalah senjata, media perlawanan, sekaligus jendela peradaban.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sejarah Penerbitan Buku di Indonesia; Dari Mesin Cetak VOC Hingga Era Modern\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sejarah penerbitan buku di Indonesia adalah kisah panjang tentang kontrol, kreativitas, dan perlawanan. Dari mesin cetak VOC di Batavia, percetakan Landsdrukkerij, misionaris, penerbit Tionghoa, hingga lahirnya Balai Pustaka dan bacaan liar, semuanya menunjukan bahwa buku bukan sekadar kertas. Buku adalah senjata, media perlawanan, sekaligus jendela peradaban.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Nasmedia Blog - Info Penulis, Buku, Penerbit dan Artikel\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/nasmedia.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-09-23T07:54:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-10-01T01:16:43+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Timeline-Sejarah-Penerbitan-Buku-di-Indonesia.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Nurni Amalia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Nurni Amalia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Nurni Amalia\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/357ea344de61676c46e3f3b3dcf3e7f3\"},\"headline\":\"Sejarah Penerbitan Buku di Indonesia; Dari Mesin Cetak VOC Hingga Era Modern\",\"datePublished\":\"2025-09-23T07:54:05+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-01T01:16:43+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\\\/\"},\"wordCount\":982,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/09\\\/Timeline-Sejarah-Penerbitan-Buku-di-Indonesia.png\",\"keywords\":[\"Balai Pustaka\",\"gerakan literasi\",\"Komisi Bacaan rakyat\",\"literasi\",\"mesin cetak\",\"nasmedia\",\"penerbit\",\"Penerbitan\",\"percetakan buku\",\"sejarah\",\"toko buku\",\"VOC\"],\"articleSection\":[\"Artikel &amp; Tips\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\\\/\",\"name\":\"Sejarah Penerbitan Buku di Indonesia; Dari Mesin Cetak VOC Hingga Era Modern - Nasmedia Blog - Info Penulis, Buku, Penerbit dan Artikel\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/09\\\/Timeline-Sejarah-Penerbitan-Buku-di-Indonesia.png\",\"datePublished\":\"2025-09-23T07:54:05+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-01T01:16:43+00:00\",\"description\":\"Sejarah penerbitan buku di Indonesia adalah kisah panjang tentang kontrol, kreativitas, dan perlawanan. Dari mesin cetak VOC di Batavia, percetakan Landsdrukkerij, misionaris, penerbit Tionghoa, hingga lahirnya Balai Pustaka dan bacaan liar, semuanya menunjukan bahwa buku bukan sekadar kertas. Buku adalah senjata, media perlawanan, sekaligus jendela peradaban.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/09\\\/Timeline-Sejarah-Penerbitan-Buku-di-Indonesia.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/09\\\/Timeline-Sejarah-Penerbitan-Buku-di-Indonesia.png\",\"width\":1920,\"height\":1080},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sejarah Penerbitan Buku di Indonesia; Dari Mesin Cetak VOC Hingga Era Modern\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/\",\"name\":\"Nasmedia Blog - Info Penulis, Buku, Penerbit dan Artikel\",\"description\":\"Satu Karya untuk Indonesia Berliterasi\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/#organization\",\"name\":\"Nasmedia Blog - Info Penulis, Buku, Penerbit dan Artikel\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/04\\\/LOGO-BLOG-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2022\\\/04\\\/LOGO-BLOG-1.png\",\"width\":567,\"height\":83,\"caption\":\"Nasmedia Blog - Info Penulis, Buku, Penerbit dan Artikel\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/nasmedia.id\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/@nasmediaentertainment8519\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/357ea344de61676c46e3f3b3dcf3e7f3\",\"name\":\"Nurni Amalia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/4d8bc60108a1bee007014e520dc08410ef90b49b956cacb956146a856c5bafdc?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/4d8bc60108a1bee007014e520dc08410ef90b49b956cacb956146a856c5bafdc?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/4d8bc60108a1bee007014e520dc08410ef90b49b956cacb956146a856c5bafdc?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Nurni Amalia\"},\"description\":\"Mahasiswa aktif jurusan sastra inggris dengan minat mendalam terhadap membaca, penulisan dan dunia literasi.\",\"url\":\"https:\\\/\\\/nasmedia.id\\\/blog\\\/author\\\/nurni-amalia\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sejarah Penerbitan Buku di Indonesia; Dari Mesin Cetak VOC Hingga Era Modern - Nasmedia Blog - Info Penulis, Buku, Penerbit dan Artikel","description":"Sejarah penerbitan buku di Indonesia adalah kisah panjang tentang kontrol, kreativitas, dan perlawanan. Dari mesin cetak VOC di Batavia, percetakan Landsdrukkerij, misionaris, penerbit Tionghoa, hingga lahirnya Balai Pustaka dan bacaan liar, semuanya menunjukan bahwa buku bukan sekadar kertas. Buku adalah senjata, media perlawanan, sekaligus jendela peradaban.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Sejarah Penerbitan Buku di Indonesia; Dari Mesin Cetak VOC Hingga Era Modern","og_description":"Sejarah penerbitan buku di Indonesia adalah kisah panjang tentang kontrol, kreativitas, dan perlawanan. Dari mesin cetak VOC di Batavia, percetakan Landsdrukkerij, misionaris, penerbit Tionghoa, hingga lahirnya Balai Pustaka dan bacaan liar, semuanya menunjukan bahwa buku bukan sekadar kertas. Buku adalah senjata, media perlawanan, sekaligus jendela peradaban.","og_url":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/","og_site_name":"Nasmedia Blog - Info Penulis, Buku, Penerbit dan Artikel","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/nasmedia.id","article_published_time":"2025-09-23T07:54:05+00:00","article_modified_time":"2025-10-01T01:16:43+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1080,"url":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Timeline-Sejarah-Penerbitan-Buku-di-Indonesia.png","type":"image\/png"}],"author":"Nurni Amalia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Nurni Amalia","Estimasi waktu membaca":"8 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/"},"author":{"name":"Nurni Amalia","@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/#\/schema\/person\/357ea344de61676c46e3f3b3dcf3e7f3"},"headline":"Sejarah Penerbitan Buku di Indonesia; Dari Mesin Cetak VOC Hingga Era Modern","datePublished":"2025-09-23T07:54:05+00:00","dateModified":"2025-10-01T01:16:43+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/"},"wordCount":982,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Timeline-Sejarah-Penerbitan-Buku-di-Indonesia.png","keywords":["Balai Pustaka","gerakan literasi","Komisi Bacaan rakyat","literasi","mesin cetak","nasmedia","penerbit","Penerbitan","percetakan buku","sejarah","toko buku","VOC"],"articleSection":["Artikel &amp; Tips"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/","url":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/","name":"Sejarah Penerbitan Buku di Indonesia; Dari Mesin Cetak VOC Hingga Era Modern - Nasmedia Blog - Info Penulis, Buku, Penerbit dan Artikel","isPartOf":{"@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Timeline-Sejarah-Penerbitan-Buku-di-Indonesia.png","datePublished":"2025-09-23T07:54:05+00:00","dateModified":"2025-10-01T01:16:43+00:00","description":"Sejarah penerbitan buku di Indonesia adalah kisah panjang tentang kontrol, kreativitas, dan perlawanan. Dari mesin cetak VOC di Batavia, percetakan Landsdrukkerij, misionaris, penerbit Tionghoa, hingga lahirnya Balai Pustaka dan bacaan liar, semuanya menunjukan bahwa buku bukan sekadar kertas. Buku adalah senjata, media perlawanan, sekaligus jendela peradaban.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/#primaryimage","url":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Timeline-Sejarah-Penerbitan-Buku-di-Indonesia.png","contentUrl":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Timeline-Sejarah-Penerbitan-Buku-di-Indonesia.png","width":1920,"height":1080},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/sejarah-penerbitan-buku-di-indonesia-dari-mesin-cetak-voc-hingga-era-modern\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sejarah Penerbitan Buku di Indonesia; Dari Mesin Cetak VOC Hingga Era Modern"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/","name":"Nasmedia Blog - Info Penulis, Buku, Penerbit dan Artikel","description":"Satu Karya untuk Indonesia Berliterasi","publisher":{"@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/#organization","name":"Nasmedia Blog - Info Penulis, Buku, Penerbit dan Artikel","url":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/LOGO-BLOG-1.png","contentUrl":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/LOGO-BLOG-1.png","width":567,"height":83,"caption":"Nasmedia Blog - Info Penulis, Buku, Penerbit dan Artikel"},"image":{"@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/nasmedia.id","https:\/\/www.youtube.com\/@nasmediaentertainment8519"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/#\/schema\/person\/357ea344de61676c46e3f3b3dcf3e7f3","name":"Nurni Amalia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/4d8bc60108a1bee007014e520dc08410ef90b49b956cacb956146a856c5bafdc?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/4d8bc60108a1bee007014e520dc08410ef90b49b956cacb956146a856c5bafdc?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/4d8bc60108a1bee007014e520dc08410ef90b49b956cacb956146a856c5bafdc?s=96&d=mm&r=g","caption":"Nurni Amalia"},"description":"Mahasiswa aktif jurusan sastra inggris dengan minat mendalam terhadap membaca, penulisan dan dunia literasi.","url":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/author\/nurni-amalia\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5427","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/156"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5427"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5427\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5479,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5427\/revisions\/5479"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5432"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5427"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5427"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5427"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}