{"id":10111,"date":"2026-09-09T13:05:04","date_gmt":"2026-09-09T06:05:04","guid":{"rendered":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/?p=10111"},"modified":"2026-09-09T13:05:04","modified_gmt":"2026-09-09T06:05:04","slug":"makanan-aman-generasi-sehat-kenali-bakteri-cegah-keracunan-pangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/makanan-aman-generasi-sehat-kenali-bakteri-cegah-keracunan-pangan\/","title":{"rendered":"Makanan Aman, Generasi Sehat: Kenali Bakteri, Cegah Keracunan Pangan"},"content":{"rendered":"<figure><\/figure>\n<p>Muktiningsih Nurjayadi<\/p>\n<p>Jefferson Lynford Declan<\/p>\n<p>Siti Fatimah<\/p>\n<p>Anisa Fitriyanti<\/p>\n<p>Rp. 80.000<\/p>\n<p>Deskripsi<\/p>\n<p>Keamanan pangan menjadi kajian penting dan pusat perhatian dunia. Kasus keracunan makanan sering disebut sebagai Kasus Luar Biasa (KLB) karena memerlukan kontribusi banyak pihak. Menurut World Health Organization (WHO), 420.000 dari 56 juta kematian setiap tahunnya disebabkan oleh keracunan makanan. Gejala keracunan makanan di antaranya yaitu sakit perut, mual, demam, muntah, dan diare. Analisis literatur menunjukkan ada 31 bakteri yang sering ditemukan pada kasus keracunan makanan di antaranya Salmonella typhi, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Listeria monocytogenes, Bacillus cereus, Bacillus subtilis, Yersinia enterocolitica, Cronobacter sakazakii. Campylobacter jejuni, Clostridium botulinum, dan Shigella flexneri. Bakteri penyebab keracunan pangan tersebut biasanya ditularkan melalui konsumsi daging, telur, susu, dan produk segar yang tidak dicuci, atau melalui kontak makanan yang terkontaminasi. Kasus keracunan makanan saat ini menjadi pusat perhatian juga di Indonesia akhir-akhir ini karena adanya Program Pemerintah tentang Makan Bergizi Gratis (MBG). Program Makan Bergizi (MBG) merupakan upaya strategis pemerintah dalam meningkatkan status gizi peserta didik. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada keamanan pangan di seluruh rantai penyediaannya. Tantangan utama dalam implementasi MBG di banyak lokasi adalah risiko keracunan pangan (foodborne diseases) yang dipicu oleh kontaminasi mikrobiologis, seperti yang sering dilaporkan dalam studi keamanan pangan jajanan sekolah.<\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td>Halaman<\/td>\n<td>Penerbit<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>xi + 235 hlm<\/td>\n<td>PT. Nas Media Indonesia<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>ISBN<\/td>\n<td>E-ISBN<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>XXXXXXXXXXXXXXXXXXX<\/td>\n<td>XXXXXXXXXXXXXXXXXXX<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Ukuran<\/td>\n<td>Bahasa<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>15,5 x 23 cm<\/td>\n<td>Indonesia<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Muktiningsih Nurjayadi Jefferson Lynford Declan Siti Fatimah Anisa Fitriyanti Rp. 80.000 Deskripsi Keamanan pangan menjadi kajian penting dan pusat perhatian dunia. Kasus keracunan makanan sering disebut sebagai Kasus Luar Biasa (KLB) karena memerlukan kontribusi banyak pihak. Menurut World Health Organization (WHO), 420.000 dari 56 juta kematian setiap tahunnya disebabkan oleh keracunan makanan. Gejala keracunan makanan&hellip;&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"author":165,"featured_media":10112,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"neve_meta_sidebar":"","neve_meta_container":"","neve_meta_enable_content_width":"off","neve_meta_content_width":70,"neve_meta_title_alignment":"","neve_meta_author_avatar":"","neve_post_elements_order":"","neve_meta_disable_header":"","neve_meta_disable_footer":"","neve_meta_disable_title":"","footnotes":""},"categories":[8,11],"tags":[],"class_list":["post-10111","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bookstore","category-tracking-buku"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10111","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/users\/165"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10111"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10111\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10114,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10111\/revisions\/10114"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10112"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10111"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10111"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10111"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}