{"id":9629,"date":"2026-07-23T09:03:02","date_gmt":"2026-07-23T02:03:02","guid":{"rendered":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/?p=9629"},"modified":"2026-07-23T09:03:02","modified_gmt":"2026-07-23T02:03:02","slug":"kritik-sastra-arab-sejarah-dan-perkembangannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/kritik-sastra-arab-sejarah-dan-perkembangannya\/","title":{"rendered":"Kritik Sastra Arab: Sejarah dan Perkembangannya"},"content":{"rendered":"<figure><\/figure>\n<p>Muhammad Zakaria Darlin, Lc., M.A., Ph.D<\/p>\n<p>Rp. 80.000<\/p>\n<p>Deskripsi<\/p>\n<p>Pembahasan mengenai kritik sastra Arab tidak dapat dilepaskan dari pemahaman terhadap konsep-konsep dasarnya. Sebelum menelaah perjalanan sejarah kritik sastra pada berbagai periode, diperlukan landasan konseptual yang memadai agar pembaca memiliki kerangka berpikir yang utuh tentang hakikat kritik sastra, perangkat yang digunakan dalam proses kritik, serta kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang kritikus. Tanpa landasan tersebut, kritik sastra mudah dipahami hanya sebagai aktivitas memberikan penilaian terhadap sebuah karya, padahal hakikatnya jauh lebih kompleks. Kritik sastra merupakan proses intelektual yang melibatkan kepekaan estetis, penguasaan bahasa, pemahaman terhadap tradisi sastra, serta kemampuan menafsirkan hubungan antara teks, pengarang, dan konteks sosial-budaya yang melingkupinya. Atas dasar itu, bab ini diawali dengan pembahasan mengenai pengertian kritik sastra, baik secara etimologis maupun terminologi, kemudian dilanjutkan dengan uraian mengenai instrumen dan perangkat yang menjadi bekal utama dalam melakukan kritik sastra. Pembahasan berikutnya mengulas syarat-syarat yang perlu dimiliki oleh seorang kritikus, tahapan-tahapan yang harus dipersiapkan sebelum melakukan kritik, serta langkah-langkah analisis yang ditempuh ketika mengkaji sebuah karya sastra. Sebagai penutup, bab ini menguraikan asal-usul dan perkembangan awal kritik sastra Arab beserta pandangan para kritikus klasik mengenai urgensi kritik dalam perkembangan sastra. Keseluruhan pembahasan tersebut menjadi fondasi teoritis sekaligus historis yang akan memudahkan pembaca memahami perkembangan kritik sastra Arab pada periode-periode berikutnya.<\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td>Halaman<\/td>\n<td>Penerbit<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>xii + 262 hlm<\/td>\n<td>PT. Nas Media Indonesia<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>ISBN<\/td>\n<td>E-ISBN<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>XXXXXXXXXXXXXXXXXXX<\/td>\n<td>XXXXXXXXXXXXXXXXXXX<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Ukuran<\/td>\n<td>Bahasa<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>15,5 x 23 cm<\/td>\n<td>Indonesia<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Muhammad Zakaria Darlin, Lc., M.A., Ph.D Rp. 80.000 Deskripsi Pembahasan mengenai kritik sastra Arab tidak dapat dilepaskan dari pemahaman terhadap konsep-konsep dasarnya. Sebelum menelaah perjalanan sejarah kritik sastra pada berbagai periode, diperlukan landasan konseptual yang memadai agar pembaca memiliki kerangka berpikir yang utuh tentang hakikat kritik sastra, perangkat yang digunakan dalam proses kritik, serta kompetensi&hellip;&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"author":165,"featured_media":9630,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"neve_meta_sidebar":"","neve_meta_container":"","neve_meta_enable_content_width":"off","neve_meta_content_width":70,"neve_meta_title_alignment":"","neve_meta_author_avatar":"","neve_post_elements_order":"","neve_meta_disable_header":"","neve_meta_disable_footer":"","neve_meta_disable_title":"","footnotes":""},"categories":[8,11],"tags":[],"class_list":["post-9629","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bookstore","category-tracking-buku"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9629","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/users\/165"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9629"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9629\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9631,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9629\/revisions\/9631"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9630"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9629"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9629"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9629"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}