{"id":9844,"date":"2026-08-11T10:29:26","date_gmt":"2026-08-11T03:29:26","guid":{"rendered":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/?p=9844"},"modified":"2026-08-11T10:31:12","modified_gmt":"2026-08-11T03:31:12","slug":"life-after-resign","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/life-after-resign\/","title":{"rendered":"Life After Resign"},"content":{"rendered":"<figure><\/figure>\n<p>Nanda Lune<\/p>\n<p>Rp. 80.000<\/p>\n<p>Deskripsi<\/p>\n<p>Ada momen ketika alarm pukul lima pagi tak lagi terasa seperti awal, melainkan beban yang harus dijalani. Bagi tokoh dalam buku ini, itulah tanda bahwa sesuatu di dalam dirinya sudah lama diabaikan. Pekerjaan yang dulu membuatnya bersemangat perlahan berubah menjadi rutinitas kosong, dan pertanyaan yang selama ini dihindari akhirnya muncul: apakah aku masih ingin bertahan, atau sudah waktunya pergi? Life After Resign adalah perjalanan batin seseorang yang memutuskan untuk berhenti, bukan karena menyerah, melainkan karena memilih untuk tetap utuh. Buku ini menelusuri setiap tahap emosi yang menyertai keputusan besar itu, dari keraguan menuliskan surat pengunduran diri, rasa bersalah kepada rekan kerja dan atasan yang pernah percaya, hingga hari terakhir yang penuh haru sekaligus lega di kantor lama. Setelah pintu itu tertutup, cerita justru baru dimulai. Pagi tanpa alarm yang semula terasa asing, rasa bersalah karena \u201chanya\u201d beristirahat, hingga proses panjang memulihkan diri lewat alam, perjalanan, membaca, dan menulis kembali, semua digambarkan dengan jujur dan dekat dengan pengalaman banyak orang. Kegelisahan finansial, penolakan demi penolakan saat melamar kerja, sampai pertanyaan tentang arah hidup yang sesungguhnya, semuanya dihadapi tanpa terburu-buru mencari jawaban instan. Buku ini tidak berusaha meyakinkan pembaca bahwa resign adalah pilihan yang benar. Sebaliknya, ia hadir sebagai teman bagi siapa pun yang sedang berada di persimpangan hidup, mengingatkan bahwa kehilangan pekerjaan bukan berarti kehilangan rezeki, dan setiap akhir bisa menjadi pintu menuju babak baru. Life After Resign adalah pengingat lembut bahwa keberanian mengambil keputusan, sekecil apa pun, tetaplah sebuah langkah maju, dan bahwa pada akhirnya, hidup selalu lebih luas daripada sekadar pekerjaan yang kita tinggalkan.<\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td>Halaman<\/td>\n<td>Penerbit<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>xii +153 hlm<\/td>\n<td>PT. Nas Media Indonesia<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>ISBN<\/td>\n<td>E-ISBN<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>XXXXXXXXXXXXXXXXXXX<\/td>\n<td>XXXXXXXXXXXXXXXXXXX<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Ukuran<\/td>\n<td>Bahasa<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>14,5 x 20,5 cm<\/td>\n<td>Indonesia<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nanda Lune Rp. 80.000 Deskripsi Ada momen ketika alarm pukul lima pagi tak lagi terasa seperti awal, melainkan beban yang harus dijalani. Bagi tokoh dalam buku ini, itulah tanda bahwa sesuatu di dalam dirinya sudah lama diabaikan. Pekerjaan yang dulu membuatnya bersemangat perlahan berubah menjadi rutinitas kosong, dan pertanyaan yang selama ini dihindari akhirnya muncul:&hellip;&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"author":165,"featured_media":9845,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"neve_meta_sidebar":"","neve_meta_container":"","neve_meta_enable_content_width":"off","neve_meta_content_width":70,"neve_meta_title_alignment":"","neve_meta_author_avatar":"","neve_post_elements_order":"","neve_meta_disable_header":"","neve_meta_disable_footer":"","neve_meta_disable_title":"","footnotes":""},"categories":[8,11],"tags":[],"class_list":["post-9844","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bookstore","category-tracking-buku"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9844","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/users\/165"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9844"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9844\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9847,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9844\/revisions\/9847"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9845"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9844"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9844"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/nasmedia.id\/store\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9844"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}