Pendahuluan
Pernah terpikir bagaimana KTI bisa jadi buku?
Banyak orang mengira karya tulis ilmiah hanya berhenti di meja sidang atau perpustakaan kampus.
Padahal, di balik setiap KTI menyimpan gagasan kuat yang penulis bisa ubah menjadi buku inspiratif dan bermanfaat untuk banyak orang.
Mengubah KTI jadi buku bukan sekadar memindahkan teks dari format ilmiah ke bentuk populer.
Tapi prosesnya melibatkan pemahaman pembaca, penyederhanaan bahasa, dan penyesuaian gaya agar tetap ilmiah tapi lebih hangat dan komunikatif.
Lewat artikel ini, kamu akan memahami langkah-langkah praktis bagaimana KTI bisa jadi buku yang tak hanya informatif, tapi juga menarik untuk dibaca oleh khalayak luas.
Perbedaan antara KTI dan Buku
Sebelum membahasnya lebih dalam kenali dulu perbedaan antara KTI dan buku.
Karya Tulis Ilmiah (KTI) dan buku mungkin sama-sama berbentuk tulisan, tapi keduanya punya karakter yang sangat berbeda.
Penulis meyusun KTI menggunakan bahasa akademik, sementara menyusun buku menggunakan bahasa komunikatif yang sederhana.

Beberapa perbedaan utama antara KTI dan buku:
1. Tujuan Penulisan
- KTI dibuat untuk membuktikan suatu teori, menjawab rumusan masalah, atau memenuhi syarat akademik.
- Buku bertujuan untuk berbagi ilmu dan memberikan nilai praktis kepada pembaca dengan cara yang lebih santai dan menarik.
2. Bahasa dan Gaya Penyampaian
- Bahasa dalam KTI cenderung formal, kaku, dan penuh istilah teknis. Setiap kalimat harus objektif dan netral.
- Sedangkan dalam buku, gaya bahasanya lebih cair dan komunikatif. Penulis bisa bercerita, menambahkan opini pribadi, bahkan menyelipkan kisah pengalaman agar pembaca merasa dekat.
3. Struktur Tulisan
- KTI memiliki struktur baku seperti abstrak, pendahuluan, tinjauan pustaka, metode, hasil, dan pembahasan.
- Penulis bisa menyusun bab sesuai alur cerita atau kebutuhan pembaca, tanpa harus terpaku pada format ilmiah.
4. Pembaca dan Cakupan
- Karya tulis ilmiah umumnya ditujukan untuk kalangan terbatas seperti dosen, peneliti, atau mahasiswa di bidang tertentu.
- Sedangkan buku ditulis untuk menjangkau khalayak luas, mulai dari pelajar, praktisi, hingga masyarakat umum.
5. Nilai dan Dampak
- Sebuah KTI dinilai dari keilmiahannya dan kontribusi terhadap dunia akademik.
- Sementara buku lebih dinilai dari seberapa besar pengaruh dan manfaatnya bagi pembaca.
Langkah-langkah mengubah KTI jadi Buku

Mengubah KTI jadi buku perlu proses yang terencana. Berikut langkah-langkah yang bisa kamu ikuti:
1. Evaluasi Isi KTI
Tinjau kembali KTI-mu. Pilih bagian yang paling menarik, relevan, dan punya nilai praktis. Buang bagian yang terlalu teknis atau tidak penting untuk pembaca umum.
2. Tentukan Fokus Utama
Cari satu ide sentral yang bisa dikembangkan jadi tema buku. Fokus yang jelas akan membuat isi buku lebih terarah dan mudah dipahami.
3. Ubah Gaya Bahasa
Gunakan bahasa yang lebih santai dan komunikatif. Hindari istilah akademik berlebihan, tapi tetap pertahankan makna ilmiahnya.
4. Rombak Struktur Tulisan
Ubah format akademik menjadi struktur buku yang mengalir: pengantar, isi, dan penutup.
Susunan bab berdasarkan alur cerita, bukan urutan penelitian.
5. Luaskan Materi
Kembangkan isi KTI agar lebih kaya dan relevan. Tambahkan kasus nyata, testimoni praktisi, dan studi lapangan untuk menunjukkan aplikasi langsung temuan penelitian.
6. Sederhanakan Data dan Hasil
Gunakan data seperlunya dan ubah penyajian menjadi narasi ringan. Fokus pada pesan utama dan dampak nyata, bukan detail angka atau tabel yang panjang.
7. Edit dan Proofreading
Periksa ulang alur, tata bahasa, dan konsistensi isi. Libatkan editor profesional untuk membuat buku rapi, jelas, dan mudah dibaca.
8. Siapkan untuk Diterbitkan
Buat judul yang kuat, sinopsis yang singkat, serta desain sampul yang menarik.
Lalu pilih jalur penerbitan yang sesuai; bisa lewat penerbit mayor, indie, atau self-publishing.
Opsi Penerbitan Buku KTI
Langkah terakhir setelah naskah siap adalah memilih jalur penerbitan. Ada beberapa opsi yang bisa kamu pertimbangkan:
1. Penerbit Mayor
Cocok bagi kamu yang ingin jangkauan luas dan distribusi nasional.
2. Penerbit Indie
Lebih fleksibel dan cepat terbit, cocok untuk penulis pemula.
3. Self Publishing
Cocok untuk kamu ingin memegang penuh kendali atas karyamu dan ingin cepat terbit, karena tidak melewati proses seleksi.
Kesimpulan
Jadi, bagaimana KTI bisa jadi buku? Jawabannya: dengan memahami perbedaan, langkah-langkah, dan opsi penerbitan, mengubah KTI jadi buku bukanlah hal yang sulit.
Mulailah dengan mengevaluasi isi, menentukan fokus utama, lalu ubah gaya bahasanya agar lebih ringan dan mengalir.
Setelah naskah siap, pilih jalur penerbitan yang sesuai, bisa lewat penerbit mayor, indie, atau self-publishing dengan sistem penerbit.
Tujuan akhirnya bukan hanya menerbitkan buku, tapi membagikan ilmu agar lebih bermanfaat bagi banyak orang.
Dengan KTI yang dulu hanya dibaca di ruang akademik, kini bisa berkembang menjadi karya yang menginspirasi lebih luas.













