Tasya Khumairah
Tasya Khumairah
Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Makassar berkomitmen untuk terus belajar dan berkarya, dengan minat pada karya sastra.

Etika dan Legalitas dalam Konversi KTI jadi Buku

Daftar Isi

Pendahuluan

Etika dan legalitas dalam konversi KTI jadi buku bukan sekadar formalitas.

Banyak penulis akademik kerap mengabikan proses yang menyangkut aspek moral dan hukum.

Padahal, tanpa memahami batas etika dan aturan hukum, karya ilmiah bisa kehilangan kredibilitas bahkan memunculkan perkara hak cipta dan tuduhan plagiarisme.

Tapi dengan memahami aspek moral dan hukum sejak awal, penulis tidak hanya menjaga integritas akademik, tetapi juga melindungi hak cipta dan reputasi diri mereka.

Artikel ini akan membahas secara ringkas dan mendalam bagaimana menjalankan konversi karya ilmiah jadi buku secara etis, legal, dan profesional tanpa kehilangan kredibilitas.

Pengertian Konversi ke Buku

Karya Tulis Ilmiah atau yang dikenal dengan singkatan KTI adalah hasil penelitian atau pemikiran sistematis yang disusun berdasarkan kaidah akademik.

Bentuknya berupa skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, atau makalah ilmiah yang memuat data, analisis, dan kesimpulan berbasis metode ilmiah.

Sedangkan, dalam proses konversi KTI menjadi buku, penulis menyederhanakan bahasa ilmiah agar lebih komunikatif tanpa mengubah substansi penelitian.

Tujuannya agar hasil pemikiran dan temuan ilmiah bisa menjangkau audiens yang lebih luas di luar ranah akademik.

Sehingga, penulis dapat menyajikan hasil riset dalam bentuk buku yang lebih inspiratif dan relevan bagi pembaca umum.

Aspek Etika dalam Konversi KTI

Etika merupakan fondasi utama dalam setiap proses konversi karya ilmiah. Dengan prinsip, mengubah tanpa menghilangkan nilai akademik.

Oleh karena itu, penulis harus memastikan tidak melakukan plagiarisme, termasuk terhadap karya sendiri (self-plagiarism).

Seperti, penulis yang mengutip ulang isi KTI tanpa menyesuaikan konteks berisiko melakukan pelanggaran etika

Juga, setiap data, temuan, dan kesimpulan harus tetap sesuai dengan hasil penelitian. Tidak mengubah fakta demi membuat buku tampak menarik.

Artiket Terkait:  7 Keunggulan E-Book Dibanding Buku Cetak

Lalu, penulis bisa menyertakan apresiasi terhadap pihak yang terlibat dalam penelitian.

Sebagai bentuk penghormatan, penulis wajib mencantumkan nama pembimbing, institusi, atau lembaga pendukung secara proporsional

Aspek Legalitas dalam Konversi KTI

Selain etika, penulis wajib memperhatikan aspek hukumm agar buku hasil konversi sah secara legal.

Karena hak cipta adalah isu yang paling sering muncul dalam proses konversi KTI.

Penulis dan institusi pendidikan sama-sama memiliki hak atas KTI yang dibuat di bawah naungan lembaga tersebut. Karena itu, izin tertulis dari instansi atau lembaga sangat penting sebelum menerbitkan buku.

Selain itu, jika penelitian melibatkan partisipan atau data pribadi, pastikan semua informasi sudah mendapatkan izin publikasi. Karena, pelanggaran privasi dapat berujung pada sanksi hukum.

Sebelum buku terbit, penulis perlu memastikan bahwa bukunya sudah memiliki ISBN resmi agara sah secara hukum.

Langkah-langkah ini melindungi penulis dari klaim plagiarisme di kemudian hari dan tuntutan hukum.

Langkah Etis dan Legal dalam Mengubah KTI jadi Buku

Agar proses konversi berjalan mulus dan sesuai aturan, berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:

1.      Kaji ulang isi KTI

Pilih bagian yang paling relevan dan mudah dipahami pembaca umum. Singkirkan bagian metodologi yang terlalu teknis.

2.      Peroleh Izin Resmi

Ajukan surat izin kepada pihak berkaitan seperti, kampus, pembimbing, juga lembaga pendukung peneitian sebelum akhirnya menerbitkan buku.

3.      Ubah Gaya Penulisan

Gunakan bahasa yang lebih ringan dan komunikatif tanpa mengubah makna ilmiah.

4.      Periksa Hak Cipta dan Sumber Data

Pastikan tidak ada kutipan atau data yang melanggar hak orang lain. Sertakan semua sumber secara jelas.

5.      Gunakan Editor Profesional

Libatkan editor atau penerbit berpengalaman agar hasil akhir lebih layak jual dan sesuai standar industri buku.

Artiket Terkait:  Menulis KTI di Era AI: Kapan Jadi Bantuan dan Kapan Jadi Bahaya?

Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, proses konversi tidak hanya etis dan legal, tetapi juga meningkatkan kualitas karya ilmiah menjadi buku yang bermanfaat.

Penutup

Konversi KTI jadi buku bukan hanya sekadar alih bentuk, tetapi bentuk kontribusi ilmuwan kepada masyarakat.

Sehingga etika dan legalitas menjadi pagar agar karya tetap bermartabat, sah, dan bernilai.

Dengan memahami prinsip-prinsip ini, setiap penulis bisa mengubah hasil penelitiannya menjadi buku inspiratif yang tak hanya informatif, tapi juga membawa dampak nyata bagi pembaca dan tidak akan merugikan seorang pun.

Share

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on telegram
Tasya Khumairah
Tasya Khumairah
Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Makassar berkomitmen untuk terus belajar dan berkarya, dengan minat pada karya sastra.
Artikel Terkait