Hikmah Wardani
Hikmah Wardani
Menekuni Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris sejak tahun 2022. Berkeinginan untuk mengembangkan kemampuan menulis dan berbagi cerita melalui kata-kata.

Ini Persyaratan agar KTI Anda Kredibel

Daftar Isi

Pendahuluan

Menulis Karya Tulis Ilmiah (KTI) bukan hanya soal memenuhi tuntutan akademik, tapi lebih dari itu.

KTI menjadi bukti bahwa penulis mampu menyajikan informasi berdasarkan metode ilmiah yang kredibel.

Karena banyaknya karya ilmiah yang beredar, maka pembaca pun akan semakin mampu membedakan mana tulisan yang kredibel dan mana yang hanya tulisan biasa tanpa kredibilitas yang jelas.

Karena itu, penulis perlu memahami bahwa KTI yang baik tidak cukup hanya rapi atau panjang, ia harus memenuhi persyaratan tertentu agar dapat dipercaya sebagai rujukan.

Pembaca membutuhkan data, teori, dan hasil analisis yang bisa diverifikasi. Ketika sebuah karya ilmiah gagal memenuhi itu, reputasi penulis ikut dipertanyakan.

Oleh karena itu, sebelum masuk pada proses penulisan, penulis perlu memahami standar yang membuat sebuah karya ilmiah layak disebut ilmiah.

Pada bagian ini, kita masuk ke pembahasan utama tentang persyaratan KTI kredibel.

Syarat-syarat KTI yang Baik

Untuk menghasilkan karya tulis ilmiah yang dipercaya oleh pembaca, penulis perlu mengikuti ketentuan dasar dalam penyusunannya.

Setiap elemen memiliki perannya masing-masing, di mana menjadikan KTI sebagai sistem yang utuh dan terukur, mengapa? Ini penjelasan lengkapnya.

1.     Sistematis

Karya ilmiah yang baik selalu disusun secara sistematis, mulai dari elemen paling dasar seperti judul hingga akhir berupa lampiran.

Penyusunan sistematis memudahkan pembaca memahami alur pemikiran, proses penelitian, dan interpretasi data.

Tanpa struktur yang jelas, sekalipun penelitian bagus, hasilnya akan terlihat berantakan dan sulit dipahami.

Dilansir dari Ruangguru, struktur karya ilmiah pada umumnya terdiri dari beberapa bagian ini yang saling berkesinambungan.

Setiap bagian memiliki fungsi khusus dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Penulis menunjukkan bahwa tulisannya mengikuti tata format ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan dengan mengikuti format KTI seperti berikut:

Ketika penulis mengikuti urutan tersebut, pembaca tidak perlu bertanya-tanya di mana data yang valid tercantum, bagaimana pengerjaan analisisnya, atau apa kesimpulannya.

Artiket Terkait:  7 Alasan Mengapa Generasi Muda Mulai Meninggalkan Buku

Semua sudah tersusun rapi sesuai standar.

2.     Objektif

Karya ilmiah harus disusun berdasarkan fakta dan data yang dapat diverifikasi. Artinya, penulis tidak boleh mengubah, menambah, atau mengurangi data hanya demi mendukung pendapat pribadi.

Semua hasil penelitian harus dilaporkan apa adanya. Jika hasil berbeda dari dugaan awal, penulis harus tetap menuliskannya secara objektif.

Data yang objektif menegaskan bahwa KTI dikerjakan tanpa prasangka atau kepentingan pribadi tertentu.

Penelitian juga harus dilakukan dengan teliti, bukan sekadar mengasumsikan atau memprediksi. Ketika penulis objektif, kredibilitasnya akan otomatis meningkat.

Adapun ciri-ciri KTI yang objektif yaitu:

Objektivitas menunjukkan profesionalitas. Tanpa objektivitas, KTI kehilangan kredibilitas dan fungsinya sebagai karya ilmiah.

3.     Logis, Faktual, dan Jujur

Syarat berikutnya adalah logis, faktual, dan jujur. Artinya, semua informasi yang tertulis adalah berdasarkan pandangan umum atau teori terbukti, bukan berdasarkan dugaan penulis, rumor, atau kembali ke poin dua—opini pribadi.

Karya ilmiah tidak boleh mengutip fakta palsu atau teori yang tidak terbukti.

Ketika penulis menyajikan informasi berdasarkan fakta ilmiah, pembaca memiliki dasar untuk menerima dan memahami isi penelitian.

Namun jika penulis mengutip data palsu atau memanipulasi hasil, riset tersebut dapat menyesatkan.

Misalnya, seorang penulis meneliti efektivitas pestisida organik. Ia menyatakan bahwa pestisida organik dapat membasmi 100% hama dalam 1 hari.

Padahal, data penelitian sebenarnya hanya menunjukkan penurunan 40% populasi hama. Jika penulis membesarkan data, pembaca bisa salah mengaplikasikan pestisida tersebut dan gagal panen.

Dalam kasus ini, ketidakjujuran bukan hanya merusak KTI, tetapi juga merugikan orang lain.

Karena itu, kejujuran adalah bagian penting dalam karya ilmiah.

Artiket Terkait:  Mengapa Literasi Digital Menjadi Kunci Melawan Hoaks?

Penulis boleh memiliki hipotesis atau teori awal, tetapi kesimpulan harus kembali pada data, bukan pada keinginan pribadi.

4.     Sopan dan Rendah Hati

Karya ilmiah bukan ajang menggurui. Bahasa yang ada harus profesional, sopan, dan rendah hati, meskipun penulis merasa datanya sangat kuat.

Pembaca berasal dari beragam latar belakang, sehingga pilihan kata harus menghargai perbedaan cara pikir dan pengalaman mereka.

Ketika penulis menggunakan kalimat menggurui, pembaca akan merasa bahwa penulis terkesan meremehkan, dan akan malas melanjutkan membaca.

Bahasa yang sopan menunjukkan bahwa penulis menghargai pembaca dan menyadari bahwa penelitian ilmiah adalah ruang diskusi, bukan ruang untuk menyatakan diri paling benar.

Dengan sikap sopan, karya ilmiah terasa profesional dan wajar untuk bacaan oleh semua kalangan.

5.     Jelas, Singkat, dan Teliti

Karya tulis ilmiah harus tersampaikan dengan jelas. Kalimat tidak boleh berputar-putar atau menggunakan kata ambigu.

Jargon, istilah asing, atau bahasa daerah harus memiliki penjelasan agar tidak menimbulkan kebingungan.

Penulisan yang ringkas menunjukkan bahwa penulis mampu menyampaikan gagasan dengan tepat.

Kejelasan dan ketelitian juga memengaruhi penilaian pembaca terhadap kualitas tulisan.

Banyak karya ilmiah gagal bukan karena datanya buruk, tetapi karena penulis tidak mampu menjelaskannya dengan baik.

Tulisan yang singkat dan tepat sasaran membuat pembaca merasa nyaman mengikuti alur analisis penulis.

6.     Kohesif dan Akuntabel

Persyaratan berikutnya adalah kohesi dan akuntabilitas. Kohesif berarti hubungan antar kalimat dan atar paragraf saling terhubung.

Tidak ada lompatan ide atau informasi tiba-tiba tanpa transisi. Ketika paragraf mengalir, pembaca dapat mengikuti alurnya tanpa harus mengulang paragraf sebelumnya.

Akuntabel berarti setiap data atau pernyataan, penulis dapat mempertanggungjawabkannya. Jika data berasal dari penelitian lapangan, penulis harus menjelaskan harus bagaimana teknik pengumpulan datanya.

Jika mengambil teori dari jurnal, buku, atau situs ilmiah, penulis harus mencantumkan sumber dalam daftar pustaka.

Artiket Terkait:  Menulis untuk Mesin vs Menulis untuk Manusia: Dilema SEO

Tanpa kohesi dan akuntabilitas, pembaca kehilangan kepercayaan terhadap tulisan tersebut. Karya ilmiah yang baik harus membuat pembaca mudah memahaminya dan bisa terverifikasi.

7.     Konversi KTI Menjadi Buku dan Pentingnya Penerbit Profesional

Setelah memenuhi seluruh persyaratan dasar, tahap selanjutnya adalah menentukan apakah KTI hanya akan menjadi dokumen tugas atau akan terbit menjadi karya yang bisa sampai ke tangan masyarakat luas.

Banyak penulis tidak menyadari bahwa mereka dapat mengonversi KTI menjadi buku ilmiah populer atau referensi akademik.

Proses ini memberi nilai tambah karena hasil penelitian referensi akademik. Proses ini memberi nilai tambah karena hasil penelitian tidak berhenti di rak perpustakaan saja.

Namun, konversi KTI menjadi buku tidak bisa sembarangan. Penulis perlu bantuan penerbit profesional yang paham cara mengubah gaya ilmiah menjadi bacaan yang tetap kredibel namun layak baca oleh pembaca umum.

Di sinilah peran Nasmedia muncul sebagai salah satu penerbit yang menyediakan layanan konversi KTI menjadi buku resmi ber-ISBN.

Konversi KTI menjadi buku bukan hanya menambah manfaat penelitian, tetapi membuka peluang baru bagi penulis untuk dikenal di lingkungan akademik maupun masyarakat umum.

Penutup

Karya tulis ilmiah adalah bentuk nyata dari kemampuan penulis dalam mengolah data, teori dan logika ilmiah.

Agar tulisan tersebut terpercaya, penulis harus memenuhi persyaratan dasar seperti sistematis, objektif, logis, jujur, sopan, jelas, koheren, serta akuntabel.

Dengan memahami syarat-syarat ini, penulis tidak hanya menghasilkan tugas akademik, tetapi karya ilmiah yang benar-benar bisa menjadi rujukan.

Pada akhirnya, kualitas KTI juga terpampang dari bagaimana tulisan tersebut terkelola setelah selesai.

Jika penulis ingin memperluas pengaruh dan manfaat karyanya, konversi KTI menjadi buku melalui penerbit profesional seperti Nasmedia dapat menjadi langkah strategis.

Dengan mengikuti standar penulisan dan memilih jalur publikasi tepat, KTI Anda kredibel dan berpotensi bermanfaat lebih luas lagi bagi pembaca dan dunia akademik.

 

Share

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on telegram
Hikmah Wardani
Hikmah Wardani
Menekuni Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris sejak tahun 2022. Berkeinginan untuk mengembangkan kemampuan menulis dan berbagi cerita melalui kata-kata.
Artikel Terkait