Pape Kedana
Rp. 80.000
Deskripsi
Debu menari di atas lantai kayu yang berderit setiap kali Martha melangkah.Partikel-partikel kecil itu melayang dalam cahaya lilin yang temaram, hidup sejenak sebelum tenggelam kembali ke kegelapan. Cahaya yang sama menciptakan bayangan panjang di dinding ruang tamu—bayangan yang tampak bergerak sendiri, seolah memiliki kehendak yang tak bisa ia pahami. Di luar, matahari tropis bersinar terik. Ia bisa mendengar suara jangkrik yang berdesir di kebun belakang, suara yang seharusnya menenangkan. Namun di dalam rumah ini, waktu seolah berhenti dalam kegelapan abadi. Suhu di luar dan di dalam terasa seperti dua dunia yang tak pernah bersinggungan. Martha berhenti di tengah ruangan. Tangannya meraba pinggiran tirai beludru berat yang menutupi jendela besar. Kain itu kasar di ujung jarinya, tebal, dan terlalu panas untuk disentuh di siang hari seperti ini. Ia menariknya sedikit, memastikan tak ada celah sekecil apa pun yang membiarkan maut masuk. Cahaya merah dari kain itu menyaring sinar matahari menjadi sesuatu yang menyerupai darah kering. “Masih ada yang belum ditutup,” bisiknya pada diri sendiri. Suara itu terdengar asing di telinganya, terlalu parau untuk milik seorang wanita yang dulu sering bernyanyi. Ia melepaskan tirai. Debu yang terangkat membuatnya terbatuk pendek, batuk yang ia tahan dengan punggung tangan. Tangannya bergetar. Ia menatapnya sejenak, lalu meremasnya kuat hingga urat- urat di pergelangan menonjol pucat.
| Halaman | Penerbit |
| vi + 153 hlm | PT. Nas Media Indonesia |
| ISBN | E-ISBN |
| XXXXXXXXXXXXXXXXXXX | XXXXXXXXXXXXXXXXXXX |
| Ukuran | Bahasa |
| 15,5 x 23 cm | Indonesia |






