Lompat ke konten

Tenang, Bukan Menang: Perjalanan Memeluk Luka, Makna dan Menemukan Diri Sendiri

Prams Adisty

Editor: Astri Apriyani

Rp. 80.000

Deskripsi

Aku Prams Adhisty, sang penulis, perempuan yang selalu berambut pendek. Lahir di Jakarta, di tengah keluarga berisi tiga bersaudara; aku sebagai anak bungsu, kakak perempuan, dan kakak laki-laki— abangku, yang dibesarkan oleh orang tua tunggal, Mama Emeria Rosalina Sitompul. Mama, sosok paling penting dalam hidupku. Maka, rasanya tidak akan mengherankan jika buku ini—buku perdanaku—bukan hanya bicara tentang diriku. Namun, juga tentang orang-orang di sekelilingku, yang membesarkan dan membentukku menjadi diriku hari ini. Tentang Mama yang dengan caranya mengajarkanku bertahan. Tentang kakakku Pramita dan abangku, Pratama, yang tentu tidak selalu sempurna, tetapi selalu menjadi bagian dari akar kuat yang membuatku tetap berdiri. Bagaimanapun, kami bertumbuh bersama. Biar bagaimanapun pernah saling melukai atau menguatkan, kami tetap keluarga. Sebuah ikatan darah, jalinan kenangan, serta doa yang pernah terucap, tidak pernah benar-benar terputus. Segala kisah dalam buku ini bukan dimaksudkan untuk membuka luka lama. Bukan pula mengacungkan jemari menunjuk ke arah siapa yang bersalah. Aku hanya ingin menceritakan perjalanan hidup untuk kemudian tiba di titik penerimaan dan pengakuan bahwa aku, Prams, sadar bahwa aku tidak akan menjadi diriku yang hari ini  tanpa beragam peristiwa baik dan buruknya, gembira juga sedihnya, dan tanpa orang-orang yang hadir dalam hidupku. Setiap pertengkaran membentukku. Setiap pelukan menyelamatkanku. Setiap diam mengajarkanku sesuatu. Untuk teman-teman yang pernah hadir—yang datang membawa tawa, yang tinggal saat aku runtuh, bahkan yang pergi dan meninggalkan jejak—, terima kasih. Kalian adalah bagian dari perjalanan hidupku. Beberapa menjadi rumah singgah. Sebagian lagi menjadi cermin. Dan, tak sedikit pula yang menjadi pelajaran. Hingga akhirnya aku belajar bahwa hidup bukan hanya tentang siapa yang menetap, tetapi juga tentang siapa yang sempat berjalan bersama. Buku ini adalah rangkaian detak; tentang trauma yang kupahami pelan-pelan, tentang jantung yang pernah melemah, tentang kota- kota yang menjadi saksi pertumbuhanku, dan tentang keberanian untuk akhirnya berkata: aku tidak selalu baik-baik saja. Jika ada yang terdengar rapuh, itu karena aku memilih jujur. Jika ada yang terasa hangat, itu karena aku pernah dicintai—meski dengan cara yang tidak selalu sempurna.

Untuk Mama, untuk kakak dan abangku, untuk teman-teman yang pernah hadir, terima kasih sudah menjadi bagian dari cerita ini. Dan di sinilah, aku ingin memulai perjalanan hidupku diceritakan.

HalamanPenerbit
viii + 136 hlmPT. Nas Media Indonesia
ISBNE-ISBN
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
UkuranBahasa
14,5  x 20,5 cmIndonesia