Nasruddin Aziz
Rp. 80.000
Deskripsi
Langit Jakarta sore itu nyaris tak terlihat.Gedung-gedung menjulang ke angkasa, saling berlomba memagut awan, tapi tak satu pun dari mereka membuat Arya merasa lebih dekat pada kedamaian. Di antara bangunan baja dan kaca, Wisma 46 berdiri angkuh—puncaknya berbentuk perahu layar, menjulang seperti tombak raksasa seolah ingin berlayar ke langit. Dulu, gedung ini adalah mahkota kota. Saat pertama kali selesai dibangun di akhir 90-an, Wisma 46 adalah bangunan tertinggi di Indonesia, simbol keberanian negeri ini bermimpi besar. Arsitekturnya futuristik, berbeda dari yang lain—orang-orang menyebutnya mercusuar Jakarta, titik orientasi yang tak hanya terlihat dari sudut mana pun kota, tapi juga dari imajinasi generasi yang tumbuh menatapnya. Bagi sebagian, itu lambang kemajuan. Bagi sebagian lain, itu tanda bahwa Jakarta telah berpaling dari tanah ke langit—dari akar ke ambisi. Tapi langit itu tetap buram: awan kemerahan, debu, dan pantulan lampu jalan mengaburkan batas antara bumi dan langit. Ilusi tinggi, seperti mimpi manusia modern yang ingin terbang tapi lupa cara mendarat ke hati.
| Halaman | Penerbit |
| x + 117 hlm | PT. Nas Media Indonesia |
| ISBN | E-ISBN |
| XXXXXXXXXXXXXXXXXXX | XXXXXXXXXXXXXXXXXXX |
| Ukuran | Bahasa |
| 15,5 x 23 cm | Indonesia |








