Lompat ke konten

Manajemen Sumber Daya Manusia Aparatur di Era Transformasi Digital

Harbani Pasolong

Tunggul Prasodjo

Rp. 80.000

Deskripsi

Transformasi fundamental dalam tata kelola pemerintahan global telah memicu reorganisasi besar-besaran terhadap cara negara mengelola sumber daya manusia (SDM) miliknya. Dinamika ini tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan merupakan respons terhadap evolusi teori administrasi publik yang terus berkembang mengikuti tuntutan zaman. Pada awalnya, paradigma Old Public Administration (OPA) yang berakar pada pemikiran Max Weber dan Woodrow Wilson mendominasi struktur birokrasi di seluruh dunia. Dalam kerangka OPA, fokus utama manajemen aparatur adalah pada standarisasi, hierarki yang kaku, dan kepatuhan mutlak terhadap aturan prosedural. Administrasi personalia dalam era ini dipandang sebagai fungsi klerikal yang bertugas mencatat kehadiran, mengelola penggajian secara manual, dan memastikan bahwa setiap pegawai bergerak dalam koridor regulasi yang linear. Namun, seiring dengan kompleksitas persoalan publik yang tidak lagi mampu diakomodasi oleh struktur yang kaku, paradigma mulai bergeser. Munculnya New Public Management (NPM) pada dekade 1980- an membawa semangat korporatisasi ke dalam sektor publik. Fokus beralih pada efisiensi, efektivitas, dan ekonomi (3E), di mana aparatur sipil mulai dipandang sebagai aset yang harus dikelola dengan prinsip-prinsip manajerial sektor swasta. Meskipun NPM berhasil meningkatkan orientasi hasil, kritik tajam muncul karena model ini cenderung mengabaikan nilai- nilai demokrasi dan akuntabilitas publik yang esensial. Hal ini kemudian melahirkan New Public Service (NPS) yang menekankan pada pelayanan warga negara di atas sekadar pengelolaan pelanggan.

HalamanPenerbit
viii + 241 hlmPT. Nas Media Indonesia
ISBNE-ISBN
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
UkuranBahasa
15,5  x 23 cmIndonesia