Ashadi Maryanto
Rp.85.000
Deskripsi
Buku ini lahir dari perjalanan panjang penulis mendampingi masyarakat di lereng Gunung Balak, sebuah kawasan hutan lindung di Lampung yang sejak lama dikenal sebagai “tanah konflik.” Sejarah panjang perebutan lahan, tarik-menarik kepentingan, dan ketidakpastian hukum menjadikan Gunung Balak bukan hanya ruang ekologis, tetapi juga ruang sosial-politik yang sarat luka. Namun, di balik luka itu ada anugerah tersembunyi: alpukat lokal yang kini dikenal sebagai alpukat Siger. Dari tanah berbatu, bibit ini tumbuh subur dan berbuah lebat. Dari sekadar tanaman percobaan, ia menjelma menjadi simbol harapan, identitas, dan solidaritas. Alpukat Siger bukan sekadar buah untuk dipetik, tetapi lambang perjuangan masyarakat yang berani menanam harapan di tengah ketidakpastian. Perjalanan buku ini merekam bagaimana rehabilitasi hutan bukan sekadar menanam pohon, melainkan juga membangun modal sosial: menumbuhkan kepercayaan, solidaritas, dan kelembagaan masyarakat. Petani tidak hanya menanam bibit, tetapi juga menanam martabat. Mereka mengubah konflik menjadi kolaborasi, menata kembali hubungan sosial, dan meneguhkan identitas baru sebagai penjaga hutan.
| Halaman | Penerbit |
| xx + 141 hlm | PT. Nas Media Indonesia |
| ISBN | E-ISBN |
| XXXXXXXXXXXXXXXXXXX | XXXXXXXXXXXXXXXXXXX |
| Ukuran | Bahasa |
| 14,5 x 20,5 cm | Indonesia |









