Lompat ke konten

Aneka Cerita: Mengajar ABK (Anak Berkebutuhan Khusus)

Suharto, S.Pd

Sofiatun Solikhah, S.Pd

Rp.85.000

Deskripsi

Pada umumnya anak berkebutuhan khusus itu hanya satu kekhususan tertentu saja. Pengertian tersebut paling tidak, dapat diketahui ketika penulis kuliah di Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB). Sekolah yang mencetak calon guru anak berkebutuhan khusus (ABK). Istilah anak berkebutuhan khusus itu dimunculkan hanya untuk memperhalus istilah. Sebetulnya bermakna sama antara kata cacat, tuna, dan luar biasa dan itu muncul juga belum lama. Zaman dahulu istilah ABK belum ada. Adanya anak cacat, anak tuna, dan anak luar biasa. Contoh; cacat mata/tunanetra, cacat fisik/tunadaksa, cacat emosi/ tunalaras, dan yang terakhir adalah ABK. Sekolah yang diperuntukan ABK ketika itu masih dikelompokkan dengan sesuai kebutuhan khususnya. Anak tunanetra sekolah di SLB A, anak tunarungu wicara masuk sekolah di SLB B, anak tunagrahita masuk di SLB C, anak tunadaksa masuk di SLB D (biasanya di YPAC), dan yang terakhir anak tunalaras masuk di SLB E. Sedangkan anak autis ketika penulis sekolah belum muncul. Penulis hanya berpendapat mungkin mirip dengan yang digolongkan dengan tunalaras di SLB E. Batasan anak tunalaras ketika itu adalah anak dengan sesuai umur kalendernya seharusnya nakalnya masih semu namun yang terjadi anak-tunalaras itu nakalnya sudah di luar kebiasaan kenakalan anak pada umumnya. Jadi SLB tertentu ketika itu siswanya semuanya sama dari jenjang TK sampai dengan SMA ketunaannya sama. Sekolah yang berlabel SLB A di mana pun berada maka semua siswanya tunanetra dan seterusnya, begitu juga dengan SLB B untuk siswa tunarungu wicara, SLB C untuk tunagrahita, SLB D untuk siswa tunadaksa, dan SLB E untuk siswa tunalaras.

HalamanPenerbit
xii + 128 hlmPT. Nas Media Indonesia
ISBNE-ISBN
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
UkuranBahasa
14,5  x 20,5  cmIndonesia