Indra Yusneaydi
Ilham Afandi
Dino Aritaba
Andika Illahi
Aris Pratama
Syaipul Bahri
Mohd. Abrar Syahroni
Rp.105.000
Deskripsi
Sejarah bangsa Indonesia tidak hanya dibangun dari nama-nama besar yang sering disebut dalam buku pelajaran, tetapi juga dari tokoh-tokoh daerah yang memberi sumbangan nyata dengan darah, pikiran, dan pengorbanan. Salah seorang di antaranya adalah Ustaz Mahmud Marzuki (1911-1946), putra Kampar yang hidup sepenuhnya untuk iman dan kemerdekaan.
Mahmud Marzuki adalah ulama, pendidik, orator, sekaligus pejuang. Kiprahnya tampak dalam berbagai dimensi, sebagai pendidik, ia mendirikan Perguruan Muallimin Muhammadiyah Bangkinang, sebagai mubalig dan orator, ia dikenal dengan seruan heroik “Isy Jahidan au Mut Syahidan” yang menggugah semangat jihad, nasionalisme, dan kebangsaan, sebagai organisator, ia menggerakkan KNI Bangkinang, Hizbul Wathan, Hizbullah, dan pasukan Harimau Kampar bersama Mohammad Amin. Bahkan, ia menjadi penggagas pengibaran Merah Putih pertama di Riau Barat (Provinsi Riau sekarang) pasca-proklamasi, sebuah tonggak sejarah yang diakui Buya Hamka dalam Perbendaharaan Lama.
Di podium dengan suara lantang, Mahmud Marzuki membakar semangat rakyat untuk berani menatap kemerdekaan. Karena kekuatan orasinya itu, ia digelari “Singa Podium”, sebuah pengakuan yang dicatat langsung oleh Buya Hamka dalam Perbendaharaan Lama. Hamka menggambarkan Mahmud Marzuki sebagai pemuda yang dengan berani menaikkan Sang Merah Putih di Tanah Kampar, meski kemudian tubuhnya remuk diinjak-injak tentara Jepang.
Namun, jalan perjuangan itu menuntut harga mahal. Mahmud Marzuki ditangkap, disiksa, hingga menderita sakit yang merenggut nyawanya pada 1946. Usianya masih muda, tetapi warisan perjuangannya abadi. Sosok ini bukan hanya pejuang Kampar, melainkan pejuang republik yang sejajar dengan nama-nama lain yang telah lebih dulu diakui. Sayangnya, hingga kini nama Mahmud Marzuki belum mendapat pengakuan negara sebagai Pahlawan Nasional. Padahal, jejaknya jelas, pengorbanannya nyata, dan kesaksian tokoh besar bangsa seperti Buya Hamka menjadi bukti autentik yang tak terbantahkan.
Buku Mahmud Marzuki: Sang Singa Podium menegaskan posisi Kampar bukan sebagai periferi sejarah, melainkan simpul penting perjuangan bangsa. Melalui sosok Mahmud Marzuki, tampak bahwa kepahlawanan tidak hanya lahir dari pusat kekuasaan, tetapi juga dari daerah dengan tradisi perlawanan yang kuat. Oleh karena itu, karya ini juga merupakan ikhtiar untuk mengusulkan Mahmud Marzuki sebagai Pahlawan Nasional, sekaligus meneguhkan inspirasi bagi generasi muda bahwa integrasi iman, ilmu, dan pengorbanan adalah fondasi sejati bagi sebuah bangsa merdeka.
| Halaman | Penerbit |
| xxvi + 224 hlm | PT. Nas Media Indonesia |
| ISBN | E-ISBN |
| 978-634-205-858-9 | 978-634-205-877-0 |
| Ukuran | Bahasa |
| 14,5 x 20,5 cm | Indonesia |









