Lompat ke konten

Menjaga Napas Limola: Strategi Pelestarian Bahasa Daerah Di Era Modern

Dr. M. Nur Hakim, S.Pd., M.Pd.

Wahyu Hidayat, S.IP., M.H.

Jusrianto, S.Pd., M.Pd.

Rp.85.000

Deskripsi

Bahasa merupakan instrumen fundamental dalam kehidupan manusia. Ia tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi medium berpikir, sarana pewarisan budaya, pembentuk identitas, sekaligus penopang peradaban. Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, bahasa menempati posisi strategis karena mencerminkan keragaman etnis, budaya, dan sejarah yang membentuk kebangsaan. Dalam hal ini, bahasa daerah tidak sekadar simbol eksistensi komunitas lokal, melainkan juga penjaga memori kolektif yang menyimpan nilai-nilai luhur, pengetahuan tradisional, dan struktur sosial yang terus hidup serta dinamis. Indonesia merupakan salah satu negara dengan keragaman bahasa tertinggi di dunia. Berdasarkan data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, terdapat 718 bahasa daerah yang menjadi bagian penting dari kekayaan budaya bangsa. Namun, sebagian besar di antaranya, khususnya bahasa-bahasa di wilayah timur dengan jumlah penutur yang terbatas, kini menghadapi ancaman kepunahan (Kemendikbudristek, 2022). Sejalan dengan itu, UNESCO (2021) mencatat bahwa dari sekitar 7.000 bahasa di dunia, hampir 40% berada dalam kondisi terancam punah, dengan rata-rata satu bahasa hilang setiap dua minggu. Fenomena ini juga mencerminkan situasi di Indonesia, di mana lebih dari 700 bahasa daerah yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara kini berada dalam kondisi rentan. Kekayaan linguistik tersebut menghadapi tekanan besar akibat arus globalisasi, dominasi bahasa nasional dan asing, serta pergeseran nilai sosial budaya. Akibatnya, banyak bahasa daerah kehilangan vitalitasnya dan hanya dipahami secara pasif oleh generasi tua, tanpa diteruskan secara aktif kepada generasi muda.

HalamanPenerbit
xii +163 hlmPT. Nas Media Indonesia
ISBNE-ISBN
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
UkuranBahasa
15,5  x 23  cmIndonesia