Andi Niftah
Andi Niftah
Mahasiswa S1 Sastra Inggris yang gemar membaca dan selalu tertarik dengan dunia kata dan cerita.

5 Perbedaan Parafrase, Kutipan, dan Ringkasan: Kapan Harus Menggunakannya?

Daftar Isi

Pendahuluan

Apakah kamu pernah merasa bingung ketika menulis karya ilmiah lalu bertanya-tanya, “Apa perbedaan parafrase, kutipan, atau ringkasan serta kapan menggunakannya?”

Jika iya, kamu tidak sendirian. Banyak mahasiswa, atau penulis masih sering mencampuradukkan ketiganya.

Padahal, memahami perbedaan parafrase, ringkasan, dan kutipan sangat penting untuk menjaga keaslian tulisan dan menghindari plagiarisme.

Dalam dunia akademik, penulis harus mengolah dan menyampaikan setiap ide, data, atau pendapat yang bukan hasil pemikiran pribadi dengan etika ilmiah.  Parafrase, ringkasan, dan kutipan adalah tiga cara utama untuk melakukan hal itu. Namun, ketiganya punya fungsi, struktur, dan aturan yang berbeda.

Artikel ini akan menjelaskan secara rinci 5 perbedaan parafrase, kutipan, dan ringkasan serta panduan kapan harus menggunakannya.

Parafrase

Parafrase berasal dari kata “paraphrase” yang berarti mengungkapkan kembali suatu gagasan dengan kata-kata sendiri tanpa mengubah makna aslinya. Dalam KBBI, parafrase berarti “penguraian kembali suatu teks dalam bentuk lain untuk memperjelas maknanya.”

Dalam penulisan ilmiah, parafrase digunakan ketika penulis ingin menjelaskan gagasan dari sumber lain dengan gaya bahasa pribadi. Parafrase membantu penulis menyesuaikan ide dari penulis lain agar selaras dengan konteks karya tulisnya.

Contoh: “Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang menentukan masa depan bangsa” diparafrase menjadi “Masa depan sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan yang terus dikembangkan secara berkelanjutan.”

Kedua kalimat di atas memiliki makna sama, tetapi penyampaian struktur dan diksinya berbeda. Itulah esensi dari parafrase: mempertahankan makna, tetapi mengubah cara penyampaian.

Parafrase wajib mencantumkan sumber karena ide asli bukan milik penulis. Jika tidak, tulisan itu tetap dianggap plagiarisme.

Kutipan

Kutipan adalah pengambilan kalimat, paragraf, atau gagasan dari sumber asli untuk memperkuat argumen dalam tulisan. Dapat berupa kutipan langsung (mengambil kata demi kata) atau kutipan tidak langsung (mengambil inti kalimat dengan gaya sendiri).

Artiket Terkait:  Peran AI dalam Dunia Penulisan: Ancaman atau Peluang?

Menulis kutipan langsung harus persis seperti sumber aslinya dengan menggunakan tanda kutip (“…”), contohnya: Menurut Freire (1970), “pendidikan adalah proses pembebasan manusia dari penindasan.”

Sementara kutipan tidak langsung bisa di sesuaikan asal maknanya tetap sama. Contohnya: Freire (1970) menegaskan bahwa pendidikan seharusnya menjadi sarana untuk membebaskan manusia dari sistem yang menindas.

Kedua bentuk kutipan tersebut sah digunakan dalam tulisan akademik selama sumbernya dicantumkan dengan benar.

Ringkasan

Ringkasan adalah penyajian singkat dari teks asli yang menampilkan ide pokok tanpa mengubah makna utama. Caranya menyaring gagasan inti dari teks panjang agar pembaca bisa memahami esensinya dalam waktu singkat.

Menurut KBBI, ringkasan berarti “hasil meringkas” atau “penyajian secara singkat dan padat dari suatu karangan.”

Contoh: “Pendidikan karakter tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun kepribadian dan moral anak. Sekolah seharusnya menjadi tempat menumbuhkan empati, tanggung jawab, dan nilai-nilai kemanusiaan.” Diringkas menjadi “Pendidikan karakter bertujuan membangun kecerdasan sekaligus moral peserta didik.”

Ringkasan berfungsi menyederhanakan informasi tanpa kehilangan makna utama. Dalam karya ilmiah, ringkasan sering digunakan ketika penulis ingin menyajikan hasil penelitian lain secara singkat.

Perbedaan Parafrase, Ringkasan, dan Kutipan

Parafrase dan kutipan memiliki risiko plagiarisme tinggi jika tidak mencantumkan sumber. Sementara ringkasan relatif aman, tetapi tetap sebaiknya tetap mencantumkan sumber untuk menjaga kredibilitas.

Selain itu, kutipan berguna ketika kalimat asli memiliki kekuatan makna, sedangkan parafrase ketika penulis ingin menjelaskan ide dengan gaya sendiri.

Kapan Harus Menggunakan Parafrase, Ringkasan, atau Kutipan?

Gunakan Parafrase Saat Ingin Menyesuaikan Gaya Tulisan

Gunakan parafrase ketika kamu ingin menjelaskan teori atau pendapat pakar dengan bahasa yang lebih ringan atau sesuai konteks tulisan. Misalnya, dalam artikel populer atau buku ajar, parafrase membuat bacaan terasa alami dan mengalir.

Artiket Terkait:  10 Bacaan Ringan Tapi Berkesan untuk Mengisi Waktu Santai

Namun ingat, meskipun kamu menulis ulang dengan kata-kata sendiri, kamu harus tetap mencantumkan sumber.

Gunakan Kutipan Saat Kalimat Asli Sangat Kuat atau Ikonik

Kutipan digunakan ketika kalimat asli memiliki kekuatan retoris atau makna yang tidak bisa diubah tanpa menghilangkan makna mendalamnya. Misalnya, dalam penelitian filsafat, hukum, atau sastra, kutipan langsung sering dipertahankan agar konteksnya tidak berubah.

Kutipan juga berguna sebagai bukti akademik yang memperkuat argumen Kamu. Dengan menambahkan kutipan dari pakar, tulisan akan terasa lebih kredibel dan berbobot.

Gunakan Ringkasan Saat Ingin Menyajikan Banyak Informasi Secara Singkat

Jika kamu mengutip hasil penelitian panjang, data statistik, atau laporan analisis, gunakan ringkasan agar pembaca tidak kelelahan membaca detailnya. Ringkasan membantu menyajikan inti sari dari teks dengan cepat.

Contohnya, saat menulis tinjauan pustaka (literature review), kamu bisa meringkas beberapa sumber menjadi satu paragraf padat yang berisi inti pemikiran masing-masing penulis.

Penutup

Memahami perbedaan parafrase, ringkasan, dan kutipan bukan hanya soal teknik menulis, tetapi juga bagian dari etika akademik. parafrase berarti menyampaikan ulang ide dengan bahasa sendiri. Sementara itu, ringkasan berarti menyajikan inti teks dalam bentuk yang lebih singkat, dan kutipan berarti mengambil kalimat atau ide dari sumber secara langsung sebagai bukti atau penguat argumen. Ketiganya saling melengkapi dalam karya ilmiah.

Jadi, mulai sekarang, biasakan untuk membaca sumber dengan cermat, pahami maknanya, lalu tentukan teknik yang paling tepat: apakah kamu akan memparafrase, meringkas, atau mengutip langsung.

Dengan begitu, karya tulis kamu akan diakui tidak hanya karena isi, tetapi juga karena integritas ilmiahnya.

Share

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on telegram
Andi Niftah
Andi Niftah
Mahasiswa S1 Sastra Inggris yang gemar membaca dan selalu tertarik dengan dunia kata dan cerita.
Artikel Terkait