Wildan Sanjoyo
Rp. 80.000
Deskripsi
Ada saat ketika aku merasa perlu berhenti, lalu menasihati diriku sendiri dengan satu nama Allah, Ar-Rahman. Pembukaan Surah Ar-Rahman dengan satu nama ini bukan sekadar keindahan redaksi, melainkan penetapan sebuah fondasi. Sebelum surah ini berbicara tentang Al-Qur’an, manusia, bahasa, langit, bumi, keseimbangan, dan nikmat yang bertebaran di semesta, ia terlebih dahulu mengarahkan perhatian kepada satu kenyataan paling mendasar, bahwa keberadaan tidak ditegakkan di atas kekuatan yang liar, melainkan di atas rahmat. Ini penting, sebab cara manusia memahami fondasi kehidupan akan menentukan cara ia membaca seluruh bangunan di atasnya. Kekeliruan pada dasar hampir selalu melahirkan kekeliruan pada penilaian, keputusan, dan arah. Di situlah kata Ar-Rahman menjadi sangat dalam. Ia bukan hanya nama yang menenangkan, tetapi juga nama yang meluruskan. Ia menuntut manusia meninjau ulang asumsi-asumsi dasarnya tentang hidup. Dunia modern telah membiasakan manusia membaca realitas dari ukuran-ukuran yang tampak, pertumbuhan, kecepatan, daya tahan, akumulasi, dan kemampuan mengendalikan keadaan. Yang terukur sering dianggap lebih nyata daripada yang hakiki. Yang terlihat stabil sering diasumsikan sehat. Yang bertumbuh sering langsung dianggap baik.
| Halaman | Penerbit |
| x + 196 hlm | PT. Nas Media Indonesia |
| ISBN | E-ISBN |
| XXXXXXXXXXXXXXXXXXX | XXXXXXXXXXXXXXXXXXX |
| Ukuran | Bahasa |
| 15,5 x 23 cm | Indonesia |









