Anwar Hasan
Rp. 80.000
Deskripsi
“Pak, aku udah haid…”
Kalimat sederhana ini bisa membuat seorang ayah terdiam. Bukan karena ia tak sayang, tetapi karena ia tak tahu harus berkata apa. Dalam banyak keluarga di Indonesia, perbincangan soal tubuh, seksualitas, dan kesehatan reproduksi masih dianggap tabu. Biasanya, ibu lah yang diharapkan menjadi penghubung antara anak perempuan dan pengetahuan tentang pubertas. Tetapi bagaimana jika ibu sudah tiada, atau tidak hadir? Dalam situasi itulah ayah, terutama ayah tunggal, harus melangkah maju. Dan di sinilah “sunyi komunikasi” sering terasa, keinginan bicara ada, tetapi ragu bagaimana memulainya. Remaja perempuan berada pada fase transisi yang sangat kompleks, tubuh mereka berubah secara biologis (pubertas, menstruasi, hormon), psikologis (identitas, harga diri) dan sosial (teman sebaya, media, norma). Tanpa informasi yang benar dan komunikasi keluarga yang mendukung, risiko yang dihadapi bisa besar. Data global menunjukkan setiap tahun sekitar 21 juta remaja putri usia 15-19 tahun di negara berkembang mengalami kehamilan, dan sekitar 12 juta melahirkan. Konsekuensinya bukan hanya masalah kesehatan, seperti anemia, infeksi, komplikasi persalinan, tetapi juga berdampak pada pendidikan, ekonomi, dan masa depan mereka.
| Halaman | Penerbit |
| x + 109 hlm | PT. Nas Media Indonesia |
| ISBN | E-ISBN |
| XXXXXXXXXXXXXXXXXXX | XXXXXXXXXXXXXXXXXXX |
| Ukuran | Bahasa |
| 17 x 25 cm | Indonesia |









