Lompat ke konten

Dari Seekor Cacing Menjadi Seekor Naga

Antony

Rp. 80.000

Deskripsi

Beberapa orang memang diciptakan tidak pandai bercerita; Bukan karena tidak memiliki kisah, melainkan setiap kisah yang dimiliki terlampau terlalu berat untuk diangkat kembali. Tidak semua hal perlu diketahui dunia, kadang ada saat di mana diam justru menjadi cara paling jujur untuk tetap waras. Ada sedih yang tidak ingin dibagi, bukan karena tidak percaya manusia lagi, tetapi karena manusia sering datang hanya untuk tahu, bukan untuk mengerti. Namun, berbeda dengan luka, kebahagiaan selalu kuusahakan untuk dibagi. Karena aku percaya, kebahagiaan yang disembunyikan adalah bentuk keserakahan. Maka aku belajar tertawa di hadapan banyak orang, meski di dalam kepala badai tak pernah benar-benar reda. Aku ikut bercanda di tengah keramaian, sementara tubuh ini diam-diam telah lama lelah berpura-pura kuat. Ada yang bekerja keras dalam diam, sendirian. Tidur larut malam, bangun lebih pagi, bekerja seharian—bukan demi pujian, bahkan bukan demi kemewahan, melainkan demi menutupi luka yang tak bisa disembuhkan. Karena beberapa luka tidak ingin sembuh; ia hanya ingin diterima. Seperti pohon yang ditebang, ia tidak pernah berpikir untuk membalas dendam. Ia hanya berusaha tumbuh kembali, perlahan, agar suatu hari rindangnya mampu meneduhkan siapa pun yang singgah. Aku ingin menjadi seperti itu—tetap bertumbuh meski pernah dihancurkan, tetap meneduhkan meski pernah dilukai. Aku memahami bahwa dunia tidak selalu berjalan adil. Ada kalanya kejujuran dikalahkan, kebaikan disalahkan, dan ketulusan justru dibiarkan berjalan sendirian. Namun, mungkin memang seperti itulah cara hidup membentuk manusia—melalui kerasnya kenyataan, agar pada akhirnya kita belajar menerima.

HalamanPenerbit
x + 156 hlmPT. Nas Media Indonesia
ISBNE-ISBN
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
UkuranBahasa
14,5 x 20,5 cmIndonesia