Sakinah Hisyam
Editor: Benno Adi Sulistyono
Rp. 80.000
Deskripsi
Kalau ditanya apa momen paling berat dalam hidupku, jawabannya tidak pernah berubah. Bukan soal pekerjaan. Bukan soal cinta yang kandas. Bukan soal hari-hari ketika aku tidak tahu harus melakukan apa. Momen paling berat adalah ketika aku harus melihat Aba berdiri di sampingku di rumah sakit, sementara akulah yang sakit. Sejak kecil, Aba adalah satu-satunya yang selalu ada di setiap lorong rumah sakit yang pernah aku lewati. Aku tidak ingat berapa kali kami duduk berdua di bangku tunggu itu—yang dingin, yang baunya khas, yang jamnya terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya. Tapi aku ingat dengan sangat jelas bahwa di setiap momen itu, Aba tidak pernah pergi. Tidak pernah lelah terlihat. Tidak pernah mengeluh, meski aku tahu sebetulnya ia juga takut. Penyakitku bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan satu kali berobat. Ia datang dan pergi, mengikuti ritmenya sendiri yang tidak pernah kupilih. Dan setiap kali ia datang lagi, yang paling menyakitkan bukan rasa sakitnya, tapi melihat wajah Aba. Ada sesuatu di sana yang tidak bisa disembunyikan. Kekhawatiran yang terlalu dalam untuk cukup ditutupi oleh senyumnya yang tetap ia usahakan. Aku belajar bertahan dari sana. Bukan dari buku atau kutipan motivasi. Dari duduk di samping Aba di ruang tunggu rumah sakit, sambil diam, sambil sama-sama menunggu nama dipanggil. Dari caranya menggenggam tanganku tanpa berkata apa-apa. Dari fakta bahwa ia ada, dan kehadirannya saja sudah cukup untuk membuatku tidak menyerah.
| Halaman | Penerbit |
| x + 114 hlm | PT. Nas Media Indonesia |
| ISBN | E-ISBN |
| XXXXXXXXXXXXXXXXXXX | XXXXXXXXXXXXXXXXXXX |
| Ukuran | Bahasa |
| 14,5 x 20,5 cm | Indonesia |








