Bejo Utomo
Rp. 80.000
Deskripsi
Suara itu akhirnya lahir juga, tajam dan bening, memecah udara. Kebahagiaan sempat menahan langkah di ambang, sebab tubuh kecil yang baru saja menatap dunia harus bertahan di balik tembok rumah sakit selama enam hari. Luka di kepala, bagian belakang dan juga di dahi, menjadi tanda yang akan melekat sepanjang hidup. Dokter menyebutnya cedera lahir, sesuatu yang membuat Kamsri terdiam lama sambil mengusap rambut tipis anaknya. Ia menunduk, bibirnya bergetar, lalu berbisik, “Nak, kuatlah. Ibu selalu di sini.” Gentho Al Amin menggenggam kartu identitas dengan tangan yang tidak sepenuhnya berhenti bergetar. Mereka menamai bayi itu Bejo, sebuah doa agar keberuntungan selalu menyertai. Mereka menambahkannya dengan Utomo, harapan agar anak ini kelak menjadi yang utama dalam kebaikan. Nama itu seperti selimut yang diselimutkan pelan-pelan, menutupi dingin yang merayap dari dinding rumah sakit. Beberapa kali Kamsri menempelkan telapak hangatnya di kening bayi, seolah ingin memindahkan setiap perih yang dialami anaknya ke tubuhnya sendiri. Dengan nama itu, mereka percaya hidup yang baru saja berderak terbuka akan punya tempat untuk bertumbuh. Sukokidul menerima Bejo seperti tanah menerima hujan pertama. Desa kecil di ujung utara Kecamatan Pule itu berdiri di kaki dua gunung, Lojeh dan Sisal, yang setiap pagi memantulkan warna hijau tua. Di barat dan utara, batasnya bertemu wilayah Kabupaten Ponorogo. Di selatan, ada Desa Jombok dan Desa Karanganyar.
| Halaman | Penerbit |
| viii +114 hlm | PT. Nas Media Indonesia |
| ISBN | E-ISBN |
| XXXXXXXXXXXXXXXXXXX | XXXXXXXXXXXXXXXXXXX |
| Ukuran | Bahasa |
| 14,5 x 20,5 cm | Indonesia |





