Pendahuluan
Di tahun 2025 ini, harus selalu terlihat baik-baik saja seolah menjadi standar sosial. Banyak orang berlomba-lomba menampilkan versi terbaik dirinya, baik di dunia nyata maupun di media sosial.
Ketika seseorang sedang tidak merasa baik-baik saja, ia sering kali diabaikan, dibanding-bandingkan dengan orang lain, atau bahkan dianggap kurang bersyukur dan kurang kuat.
Adu nasib sudah menjadi hal yang umum, dan keluhan sering tidak benar-benar didengar.
Dalam situasi seperti ini, tidak sedikit orang memilih untuk menyembunyikan perasaannya agar tetap diterima. Senyum menjadi tameng bagi emosi-emosi tidak menyenangkan yang harus mereka sembunyikan.
Mengingat situasi ini, buku Toxic Positivity – Penghambat Jalan Keutuhan Diri karya Syam Basrijal terasa cocok untuk masuk di reading list kita.
Buku ini seolah mengajak kita, para pembaca, untuk melihat sisi lain dari sikap “selalu positif” yang selama ini orang-orang anggap baik, yang nyatanya bisa berdampak buruk jika kita menerapkannya secara berlebihan.
Jadi, mari kita belajar menerima emosi lewat buku Toxic Positivity – Penghambat Jalan Keutuhan Diri karya Pak Syam Basrijal.
Mengenal Buku “Toxic Positivity”

Buku ini diterbitkan oleh PT. Nasmedia Indonesia pada tahun 2025 dan terdiri dari 195 halaman.
Penulisnya, Syam Basrijal, terkenal sebagai founder Restorasi Jiwa Indonesia, sekaligus penulis dan fasilitator penyembuhan dan pendamping jiwa yang lama berkecimpung dalam isu kesadaran diri, trauma, spiritualitas, dan pemulihan emosional.
Pengalamannya tersebut sangat terasa dalam cara buku ini disusun dan disampaikan.
Sebelum membaca, ada anggapan bahwa buku ini hanya akan membahas toxic positivity secara teoretis, atau hanya sebatas definisi dan kritik sosial tanpa memberikan gambaran nyata bagi mereka yang sedang berasa dalam situasi tersebut.
Namun, anggapan itu ternyata salah. Buku ini justru banyak berbicara tentang pengalaman emosional manusia dan memberikan ruang refleksi yang cukup praktis bagi pembacanya.
Buku ini seolah mengajak para pembaca melihat kembali emosi sebagai bagian alami dari diri manusia.
Bagi penulis, kesedihan, kemarahan, ketakutan, dan kekecewaan tetaplah sebuah pengalaman yang sah dan nyata, dan proses pemulihan selalu bisa terjadi.
Emosi-emosi itu tidak hanya menjadi tanda kelemahan yang seharusnya tidak boleh muncul dari seorang individu jika ingin menjadi bagian dari lingkungannya.
Bagaimana Buku Ini Menjelaskan Toxic Positivity?

Dalam buku ini, toxic positivity memiliki definisi sebagai kecenderungan untuk menolak atau menekan emosi yang terkesan negatif, seperti sedih, marah, takut, atau cemas.
Orang-orang sering menganggap emosi-emosi tersebut mengganggu suasana dan harus segera menghilang, biasanya dengan nasihat atau kalimat penyemangat yang tidak selalu sesuai dengan kondisi seseorang.
Contoh paling dekat bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pertemanan misalnya, orang-orang sering lebih nyaman bergaul dengan mereka yang terlihat ceria dan positif.
Akibatnya, sebagian orang memilih menyembunyikan emosi negatifnya agar tetap ada dalam lingkungannya.
Hal serupa juga terlihat di media sosial, di mana orang cenderung hanya membagikan momen bahagia dan pencapaian, sementara sisi sulit dan menyakitkan? simpan sendiri.
Karena tahu bahwa terkadang reaksi dari netizen malah menjadi meriam bagi diri mereka sendiri.
Pola seperti ini, jika terus berlangsung, dapat mengarah pada toxic positivity.
Buku ini tersusun dari lima bagian dan dua puluh lima bab. Isinya akan menjelaskan mengenai fenomena toxic positivity dan juga mengajak pembaca memahami emosi secara jujur dan menyeluruh melalui penjelasan sederhana, refleksi, dan afirmasi.
Hal yang Membuat Buku ini Menarik

Salah satu hal yang membuat buku ini menarik adalah pendekatannya yang tidak menggurui. Penulis tidak memaksa pembaca untuk segera berubah atau “sembuh”.
Malah, penulis dengan lembut mengajak mereka untuk memahami diri sendiri terlebih dahulu.
Bahasa yang teraplikasikan dalam bukunya pun cukup sederhana dan mudah bagi pembaca untuk memahaminya, sehingga pembaca dari berbagai latar belakang bisa mengikutinya.
Bagian yang paling berkesan adalah Bagian IV, Bab 19: “Menjadi Manusia Seutuhnya, Bukan Selalu Bahagia.”
Bab ini sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini, di mana kebahagiaan sering menjadi tolok ukur keberhasilan hidup.
Banyak orang merasa harus selalu tersenyum, bersyukur, dan terlihat kuat, sementara perasaan seperti takut, sedih, kecewa atau hampa adalah perasaan yang mendapatkan label buruk jika terlihat.
Melalui bab ini, penulis menegaskan bahwa manusia terciptakan untuk mengalami berbagai perasaan. Kita tidak harus selalu merasa bahagia.
“Tidak apa-apa, selama kita mau jujur pada apa yang kita rasakan.” Pesan inilah yang membuat bagian ini terasa paling kuat dan menyentuh.
Catatan Tambahan

Isi buku ini kuat jika pembaca melihat dari sisi reflektifnya. Buku ini memiliki ritme yang cukup pelan.
Bagi pembaca yang terbiasa dengan buku pengembangan diri yang langsung menawarkan langkah-langkah praktis dan hasil cepat, buku ini mungkin terasa kurang “to the point.”
Tetapi pendekatan yang pelan ini sebenarnya sejalan dengan tujuan buku. Penulis memang tidak bermaksud memberikan solusi instan. Melihat dari tulisannya, penulis seolah ingin mengajak pembaca memahami proses emosional secara lebih mendalam.
Untuk Siapa Buku Ini Cocok?

Buku Toxic Positivity – Penghambat Jalan Keutuhan Diri cocok untuk pembaca yang sering merasa lelah karena harus selalu terlihat baik-baik saja.
Buku ini juga relevan bagi mereka yang sedang berproses secara emosional, ingin lebih memahami diri sendiri, atau ingin belajar menerima emosi tanpa rasa bersalah.
Selain untuk mengobati rasa lelah mental dan panduan proses emosional, buku ini bisa bermanfaat bagi pendamping, fasilitator, atau siapa pun yang tertarik pada isu kesehatan mental dan relasi sosial.
Penutup
Setelah membaca Toxic Positivity – Penghambat Jalan Keutuhan Diri, tertinggal kesan adalah yang lebih tenang dan pemahaman tentang diri sendiri.
Tak ketinggalan pula rasa euforia setelah membaca tiap lembarnya.
Buku ini tidak menjanjikan kebahagiaan instan, tetapi membantu pembaca merasa lebih menerima diri sendiri dalam prosesnya.
Buku ini mengingatkan bahwa dalam hidup tidak perlu selalu merasa bahagia. Mari belajar untuk menerima diri kita sendiri secara utuh. Sebagai manusia dengan semua emosi yang telah dan akan datang lalu pergi.
Buku ini sangat direkomendasikan bagi pembaca yang ingin memahami emosi secara lebih sehat dan realistis, sesuai dengan konteks kehidupan saat ini.













