Syafrida N. Febriyanti
Dyva Claretta
Diana Amalia
Ratih Pandu Mustikasari
Dian Hutami Rahmawati
Saifuddin Zuhri
Rp. 80.000
Deskripsi
Di balik deretan toko kecil, gerobak makanan pinggir jalan, hingga akun Instagram sederhana yang menawarkan kerajinan tangan, ada satu kekuatan besar yang menopang ekonomi Indonesia: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Data dari Kementerian Koperasi dan UKM (2023) menunjukkan bahwa UMKM menyumbang sekitar 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja. Namun, meskipun perannya vital, UMKM juga merupakan sektor yang paling rentan terhadap gejolak zaman. Keterbatasan modal, akses pasar yang sempit, rendahnya literasi digital, hingga tantangan pemasaran adalah masalah klasik yang terus menghantui pelaku usaha kecil. Saat pandemi Covid-19 datang, ribuan UMKM kolaps karena tak siap menghadapi perubahan pola konsumsi masyarakat yang tiba-tiba bergeser ke dunia digital. Era digital telah menciptakan lanskap baru. Konsumen kini lebih banyak mencari produk melalui mesin pencari, media sosial, atau marketplace. Mereka tidak hanya membeli produk, tapi juga membeli cerita, pengalaman, dan kepercayaan terhadap sebuah merek. Artinya, UMKM tidak cukup hanya memiliki produk yang bagus, mereka juga perlu membangun komunikasi dan identitas merek secara strategis. Inilah titik persimpangan yang dihadapi UMKM saat ini; apakah akan bertahan dengan cara lama, atau bertransformasi melalui strategi digital yang adaptif? Tulisan ini hadir untuk menjawab tantangan itu dengan menggabungkan teori komunikasi pemasaran modern dan praktik nyata di lapangan.
| Halaman | Penerbit |
| viii + 210 hlm | PT. Nas Media Indonesia |
| ISBN | E-ISBN |
| XXXXXXXXXXXXXXXXXXX | XXXXXXXXXXXXXXXXXXX |
| Ukuran | Bahasa |
| 15,5 x 23 cm | Indonesia |






